CeritaNgeTrend – Suatu hari, Raja Harun Al-Rasyid berdiri di balkon istana sambil memandangi burung-burung yang terbang bebas di langit. Ia pun berkata, “Alangkah indahnya jika aku bisa terbang seperti mereka. Abunawas! Aku ingin kau membuatkan alat agar aku bisa terbang!”

Abunawas terdiam sejenak, lalu menjawab, “Titah Tuanku adalah kehormatan. Saya akan membuatkan alat terbang, tapi mohon waktu tiga hari.”

Raja pun menyetujui. Selama tiga hari, Abunawas sibuk mengumpulkan bulu ayam, bambu, dan kain. Ia membuat sayap besar yang bisa dikenakan di punggung. Pada hari ketiga, ia datang ke istana dengan alat tersebut.

“Tuanku, inilah sayap buatan saya. Untuk menguji keampuhannya, saya mohon Tuanku naik ke menara tertinggi istana dan melompat. Dengan ini, Tuanku pasti bisa terbang seperti burung.”









Raja pun naik ke menara, mengenakan sayap, dan bersiap melompat. Namun, saat melihat ke bawah, ia gemetar. “Abunawas, kau yakin ini aman?”

Abunawas tersenyum, “Tuanku, saya hanya mengikuti perintah. Tapi jika Tuanku ragu, mungkin memang manusia tidak ditakdirkan untuk terbang seperti burung.”

Raja pun tersadar. Ia tertawa dan membatalkan niatnya. “Kau memang licik, Abunawas. Tapi kau telah menyelamatkan nyawaku.”

Sejak saat itu, Raja tak lagi memaksakan kehendak yang bertentangan dengan kodrat manusia. Dan Abunawas? Ia kembali ke rumah dengan hadiah emas dan gelar baru: “Penjinak mimpi sang Raja.”