Arus Sungai Bawa Nyawa Calon Jaksa, Ketika Keadilan Tergelincir Di Tengah Desa
Bacatrend, Simalungun — Pagi itu, langit belum benar-benar terbuka. Kabut tipis masih menyelimuti tepian sungai yang membelah kampung, seolah menyembunyikan rahasia yang sebentar lagi akan terbongkar.
Di ujung jalan tanah yang becek, suara langkah tergesa-gesa memecah sunyi. Seorang pemuda berpakaian sipil, mata tajam dan napas berat, berlari menembus semak-semak, memburu sesuatu yang diyakini sebagai simbol busuknya kekuasaan di tingkat desa.
Ia adalah calon jaksa—masih muda, idealis, ditugaskan sebagai staf Pidana Khusus di Kejaksaan Negeri Simalungun. Hari itu seharusnya menjadi prosedur biasa: menjemput seorang kepala desa yang diduga menggarong dana desa tahun anggaran 2024. Namun situasi berubah liar, seperti skenario film kejar-kejaran yang kehilangan skrip. Si kades melawan, melepaskan diri, dan melompat ke sungai—membuka babak baru yang tidak tertulis dalam prosedur hukum: pengejaran di arus deras.
Warga merekam segalanya. Dalam video amatir berdurasi 38 detik yang tersebar luas di media sosial, tampak sang calon jaksa melompat ke air bersama seorang warga, berusaha mengejar sang kades yang berenang seperti nyawanya tergadai. Namun drama itu berubah menjadi tragedi. Arus terlalu kuat, terlalu cepat, terlalu bengis. Dalam hitungan detik, calon jaksa dan warga itu tersapu deras, tubuh mereka tak lagi tampak. Hanya suara histeris terdengar dari kejauhan.
Esok harinya, Kamis siang, tubuh sang calon jaksa ditemukan. Tiga kilometer dari lokasi awal hanyut, terdampar dalam diam. Dingin, tenang, dan terlampau sunyi untuk seseorang yang hidupnya terbakar oleh semangat menegakkan hukum. Ia meninggal bukan karena luka atau senjata—melainkan karena dedikasi yang terlalu tergesa mengejar keadilan yang terus berlari.
Pelaku, ironi dari semua ini, selamat. Ia merangkak naik dari tepian sungai dan ditangkap dalam kondisi basah kuyup. Di matanya tidak tampak penyesalan, hanya kebingungan—mungkin karena tahu bahwa dalam peristiwa ini, yang jatuh bukan hanya aparat, melainkan juga sebuah harapan.
Kini, jenazah calon jaksa itu telah dibawa ke RSUD Asahan, sebelum diserahkan kepada keluarga yang mungkin tak pernah membayangkan bahwa anak mereka, yang selama ini mengejar hukum, justru akan terhempas oleh peristiwa yang tak adil. Sementara satu warga lain yang ikut terseret arus masih hilang, meninggalkan kekosongan yang menganga di tengah deru pencarian.
Dan kita semua diam, terpaku di hadapan peristiwa ini. Karena pada akhirnya, pertanyaannya bukan hanya siapa yang bersalah, tetapi juga: berapa banyak nyawa lagi harus hanyut sebelum keadilan berhenti menjadi sesuatu yang dikejar dengan nyawa?











Tinggalkan Balasan