Bacatrend, Gresik — Di sebuah dapur kayu yang menghadap langsung ke laut, aroma asap kelapa menyatu dengan angin pesisir. Seorang ibu tua, dengan tangan cekatan dan mata yang sudah hafal ritme bara, membalik ikan tongkol yang mulai menghitam di tepi. Tak ada bumbu rumit, tak ada alat modern. Hanya bara sabut kelapa, garam, dan bawang putih. Inilah Tono-Tono Jhukok, sajian khas Bawean yang menyimpan lebih dari sekadar rasa.

Di tengah gempuran makanan cepat saji dan resep viral, Tono-Tono Jhukok tetap bertahan sebagai simbol kesederhanaan dan kearifan lokal. Nama ini berasal dari bahasa Bawean dan Madura: tono-tono berarti bakar, dan jhukok adalah sebutan lokal untuk ikan. Sajian ini bukan hanya soal teknik memasak, tapi juga tentang filosofi hidup masyarakat pesisir: hemat, bersahaja, dan bersyukur atas hasil laut.

“Ikan segar itu sudah punya rasa sendiri. Kita cuma bantu mengeluarkannya,” ujar Mak Siti, warga Desa Daun yang dikenal sebagai penjaga resep tono-tono jhukok. Setiap pagi, ia menyiapkan ikan hasil tangkapan suaminya, lalu membakarnya perlahan di atas bara kelapa. “Kalau bara terlalu panas, kulitnya gosong, tapi dalamnya mentah. Harus sabar.”

Disajikan dengan sambal petis khas Bawean—gurih, sedikit manis, dan pedas yang menggigit—tono-tono jhukok menjadi santapan siang yang tak hanya mengenyangkan, tapi juga menghangatkan hati. Nasi hangat dan lalapan sederhana melengkapi sajian ini, menjadikannya makanan yang akrab di lidah dan lekat di ingatan.









Namun tono-tono jhukok bukan sekadar kuliner. Ia adalah narasi tentang peran perempuan dalam dapur pesisir, tentang keberlanjutan pangan, dan tentang identitas yang dijaga lewat rasa. Di beberapa sekolah lokal, sajian ini mulai dikenalkan sebagai bagian dari muatan lokal, mengajarkan anak-anak bahwa makanan bisa menjadi alat pendidikan dan pelestarian budaya.

“Kalau anak-anak tahu cara membakar ikan seperti ini, mereka tahu cara menghargai laut,” kata Pak Rafi, guru SD di Sangkapura yang aktif mengenalkan kuliner tradisional kepada muridnya. “Mereka belajar bahwa makanan bukan cuma soal kenyang, tapi juga soal cerita.”

Di tengah perubahan zaman, tono-tono jhukok tetap menyala—di tungku-tungku dapur, di ingatan para ibu, dan di lidah generasi yang tumbuh dengan rasa hormat pada laut dan bara. Ia mungkin tak masuk daftar makanan mewah, tapi di Bawean, ia adalah warisan. Dan selama masih ada tangan yang membakar, dan mulut yang menceritakan, tono-tono jhukok akan tetap hidup—sebagai rasa, sebagai cerita, dan sebagai bara yang tak padam.