Bacatrend, Jakarta – Ketika bau tak biasa mulai menyusup di antara deretan rak dan mesin pendingin sebuah pabrik farmasi di kawasan Kayu Putih, Pulogadung, Selasa siang itu, tak ada yang mengira bahwa mereka sedang menghirup isyarat kematian. Bau yang tajam dan menusuk itulah yang kemudian menjadi titik awal terkuaknya kisah tragis tentang seorang teknisi bernama Rastono (38).

Petugas dan pegawai segera mengarahkan perhatian ke plafon—tempat yang jarang dijamah dan hampir terlupakan. Pukul 14.30 WIB, tim dari Gulkarmat Jakarta Timur dipanggil untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dalam proses evakuasi yang memakan waktu hampir satu jam, tubuh Rastono ditemukan dalam posisi terlentang, mengenakan kaos kuning dan celana panjang biru. Kaki kanannya terlilit kabel listrik.

Menurut Kapolsek Pulogadung Kompol Suroto, Rastono merupakan teknisi yang bekerja di pabrik tersebut. Ia terakhir kali terlihat pada Sabtu (26/7) tengah malam, sedang memperbaiki pompa air. Namun sejak hari Senin berikutnya, kehadirannya tak lagi terdeteksi. Tak ada alarm yang menyala, tak ada laporan kehilangan.

Temuan kabel yang terlilit di tubuh korban membuka dugaan awal bahwa Rastono meninggal akibat tersengat listrik saat menjalankan tugasnya di atas plafon. Tubuhnya terperangkap, dan tak seorang pun menyadari keberadaannya hingga bau dari dekomposisi menjadi satu-satunya “suara” yang menyampaikan kebenaran.









Pabrik farmasi, tempat di mana presisi dan keselamatan menjadi landasan operasional, ternyata menyimpan celah yang mematikan. Kejadian ini menyentak kesadaran akan betapa rentannya pekerja lapangan di sektor industri. Rastono bekerja di ruang sunyi, di antara kabel dan mesin, di tempat yang tak dijangkau mata, namun penuh risiko.

Polisi telah memeriksa enam saksi termasuk atasan dan rekan kerja korban. Jenazahnya kini berada di RS Polri Kramat Jati untuk proses autopsi. Sementara pihak keluarga menunggu kepastian di tengah duka yang merayap pelan.

Kematiannya membawa pesan yang tak bisa dibungkam oleh protokol perusahaan atau jadwal produksi. Ia adalah peringatan diam tentang pentingnya standar keselamatan kerja dan kepekaan lingkungan terhadap keberadaan dan kondisi teknisi lapangan.

Di balik tubuh yang terbujur kaku itu, ada cerita tentang dedikasi, mungkin juga kelelahan, dan kemungkinan besar kesepian. Rastono tak hanya kehilangan nyawanya, tetapi juga kesempatan untuk diselamatkan lebih awal.