Bau Peapi, Semangkuk Warisan Laut dari Tanah Mandar
Bacatrend, Sulawesi Barat — Di dapur-dapur pesisir Mandar, aroma kunyit dan bawang lokal menyatu dalam uap kuah kuning yang mengepul dari kawali. Di dalamnya, ikan segar berenang dalam bumbu yang tak sekadar menghidangkan rasa, tapi juga cerita. Itulah Bau Peapi, kuliner khas Sulawesi Barat yang tak pernah absen dari meja makan warga Mandar.
“Kalau tidak ada Bau Peapi, rasanya belum makan,” ujar seorang warga Mandar di Pasangkayu, sambil menyendok kuah hangat ke atas jepa—lembaran singkong parut yang dibakar garing.
Nama Bau Peapi berasal dari bahasa Mandar: bau berarti ikan, dan peapi berarti direbus. Namun, prosesnya jauh dari sekadar merebus. Ikan tuna, cakalang, atau bandeng dimasak dalam kuah kuning yang kaya rempah: kunyit, bawang Mandar (lasuna Mandar), cabai lokal, dan pammaisang—asam mangga khas Mandar yang dikeringkan. Pammaisang memberi rasa asam yang tajam dan khas, tak tergantikan oleh jeruk nipis atau asam jawa.
Minyak kelapa asli digunakan untuk menumis bumbu, memperkuat aroma dan memberi sentuhan tradisional yang sehat. “Minyak kelapa bikin kuahnya lebih wangi dan gurih,” kata ibu Nurhayati, penjual Bau Peapi di kawasan Tanjung Babia, Pasangkayu.
Di sana, setiap Minggu pagi, wisata kuliner pesisir menggeliat. Bau Peapi disajikan bersama jepa atau nasi putih, kadang ditemani pisang rebus. Pengunjung tak hanya makan, tapi juga menikmati mandi laut dan suasana pantai yang tenang.
Lebih dari sekadar makanan, Bau Peapi adalah warisan. Kaya omega-3 dan vitamin, ia menjadi hidangan bergizi yang baik untuk ibu hamil dan anak-anak. Di rumah-rumah Mandar, Bau Peapi adalah sajian wajib, simbol kehangatan dan identitas.
Di tengah arus modernisasi, Bau Peapi tetap bertahan. Ia bukan sekadar resep, tapi narasi kuliner yang mengikat generasi. Semangkuk kuah kuning itu menyimpan laut, tanah, dan lidah Mandar yang tak lekang oleh waktu.











Tinggalkan Balasan