Bacatrend, Trenggalek – Di balik lekuk-lekuk perbukitan Gandusari, tersembunyi sebuah tempat yang seolah ditulis langsung dari puisi langit: Bukit Banyon. Terletak di Desa Widoro, sekitar satu jam perjalanan dari pusat kota Trenggalek, bukit ini menjelma menjadi destinasi spiritual bagi pencari ketenangan, pemburu matahari terbit, dan penikmat langit malam yang bertabur bintang.

Dengan ketinggian mencapai 1.175 mdpl, Bukit Banyon dijuluki “negeri di atas awan”—dan bukan tanpa alasan. Saat pagi masih menggigil, kabut tebal menyelimuti lembah dan perkampungan di bawahnya, menciptakan ilusi seolah pengunjung sedang berdiri di atas samudra awan. Ketika mentari mulai mengintip dari balik cakrawala, kabut itu perlahan menyingkir, memperlihatkan hamparan hijau yang menyejukkan mata.

“Suasananya seperti dunia lain. Hening, damai, dan penuh rasa syukur,” ujar Rina, seorang pengunjung asal Tulungagung yang rutin datang untuk berkemah di akhir pekan.

Bukit ini tak hanya memesona di pagi hari. Saat senja datang, langit berubah menjadi kanvas jingga keemasan, dan malamnya—oh, malamnya—langit Bukit Banyon berubah menjadi panggung bintang. Tak heran jika banyak yang menyebutnya juga sebagai “negeri seribu bintang”.









Akses menuju Bukit Banyon cukup menantang, dengan tanjakan curam dan jalan cor beton yang berliku. Namun, semua itu terbayar lunas saat tiba di puncak. Tersedia area camping ground bagi mereka yang ingin bermalam, serta beberapa warung sederhana yang menjual kopi panas dan mi instan—teman setia para penikmat langit malam.

Menurut Traveloka dan Native Indonesia, Bukit Banyon masih tergolong sepi dan belum terlalu ramai wisatawan, menjadikannya tempat ideal untuk melarikan diri dari hiruk-pikuk kota. Biaya masuknya pun sangat terjangkau, hanya sekitar Rp5.000 per orang.