Cabuk, Kuliner Hitam Legendaris yang Kian Langka tapi Diburu Pecinta Tradisi
Bacatrend, Wonogiri — Dari sekilas pandang, tampilan hitam pekat makanan ini mungkin tampak sederhana. Namun, bagi masyarakat Wonogiri, cabuk justru menyimpan sejarah panjang, cita rasa khas, dan filosofi ketekunan yang diwariskan lintas generasi.
Cabuk — atau sering disebut cabuk wijen — merupakan kuliner tradisional khas Wonogiri yang terbuat dari biji wijen, parutan kelapa, cabai, gula jawa, dan serbuk arang dari daun pisang atau merang yang dibakar. Warna hitam legamnya berasal dari arang alami tersebut, memberi aroma asap yang khas serta rasa gurih yang sulit ditemukan pada makanan lain.
“Cabuk ini bukan sekadar lauk, tapi warisan leluhur,” ujar salah satu penjual cabuk di Pasar Wonogiri, Siti Marfuah (56), yang sudah membuat cabuk sejak remaja.
Menurutnya, proses pembuatan cabuk membutuhkan ketelatenan tinggi. Wijen disangrai hingga harum, lalu ditumbuk halus bersama kelapa dan bumbu sebelum dibungkus daun pisang dan dipanggang hingga matang.
Rasa cabuk memadukan gurihnya wijen, pedasnya cabai, serta sedikit manis dari gula jawa. Biasanya, makanan ini disajikan bersama nasi, tiwul, atau lontong, dan menjadi menu wajib dalam acara kenduren serta hajatan warga desa. Tak jarang pula dijadikan oleh-oleh khas bagi pelancong yang berkunjung ke Bumi Giriyoso tersebut.
Namun di balik kelezatannya, cabuk kini mulai jarang ditemui.
Salah satu penyebabnya adalah semakin langkanya wijen hitam lokal — bahan utama pembuatannya. Banyak pembuat kini beralih ke wijen putih, meski rasanya dianggap sedikit berbeda. “Sekarang jarang yang menanam wijen hitam, padahal itu yang bikin rasanya khas,” kata Siti.
Meski perlahan terdesak modernisasi, beberapa komunitas kuliner dan pegiat budaya Wonogiri berupaya melestarikan makanan ini dengan menggelar pelatihan pembuatan cabuk di tingkat desa. Mereka berharap cabuk bisa kembali populer di kalangan muda, terutama karena keunikannya yang mampu bersaing dengan tren kuliner kekinian.
Di beberapa pasar tradisional seperti Pasar Kota Wonogiri dan Pasar Ngadirojo, cabuk masih bisa ditemukan dalam kemasan daun pisang kecil seharga sekitar Rp5.000–Rp10.000 per bungkus. Ada pula beberapa produsen yang menjual cabuk siap santap secara daring sebagai oleh-oleh khas Wonogiri.
Dengan cita rasa gurih, pedas, dan aroma asap yang menggoda, cabuk bukan sekadar makanan — ia adalah cerita tentang ketekunan masyarakat Wonogiri dalam menjaga warisan rasa dari masa lalu agar tetap hidup di tengah arus zaman.











Tinggalkan Balasan