Campor Lorjuk, Semangkuk Laut dan Tradisi dari Pamekasan
Bacatrend, Pamekasan — Di sebuah warung sederhana di Kecamatan Pademawu, aroma kuah gurih menyambut setiap pengunjung yang datang pagi-pagi. Di atas meja, semangkuk Campor Lorjuk tersaji hangat: lontong, mie soun, kecambah goreng, kacang oto, dan rempeyek hancur, semuanya disiram kuah bening yang mengandung rasa laut yang khas. Di atasnya, lorjuk—kerang bambu kecil yang hanya bisa ditemukan di pesisir Madura—menjadi bintang utama.
Campor Lorjuk bukan sekadar makanan. Ia adalah warisan rasa, jejak tradisi, dan cerminan kehidupan masyarakat pesisir yang bersahaja namun kaya akan kearifan lokal.
Lorjuk, bahan utama hidangan ini, ditangkap saat air laut surut. Para nelayan, kebanyakan perempuan dan anak-anak, menyisir pantai berlumpur dengan tangan kosong, menggali lorjuk yang bersembunyi di bawah pasir. Prosesnya melelahkan, tapi hasilnya menjadi sumber penghidupan dan kebanggaan.
“Kalau musim lorjuk, pantai ramai. Tapi sekarang makin susah, air laut berubah, lorjuknya jarang,” ujar Ibu Sawerni, penjual Campor Lorjuk yang sudah berjualan sejak tahun 1990-an. Ia masih ingat masa kecilnya, saat lorjuk melimpah dan Campor Lorjuk menjadi hidangan wajib saat Lebaran.
Campor Lorjuk punya rasa yang unik: gurih alami dari lorjuk, segar dari jeruk nipis, dan sedikit manis dari kacang oto. Tidak ada penyedap buatan, hanya bumbu dapur dan tangan-tangan terampil yang meracik dengan intuisi.
“Orang luar kadang heran, kok bisa kerang sekecil itu jadi enak banget,” kata Sawerni sambil tersenyum. Ia percaya bahwa rasa Campor Lorjuk bukan hanya soal bahan, tapi juga soal kenangan dan cinta yang tertanam dalam setiap racikan.
Bagi warga Pamekasan, Campor Lorjuk adalah identitas. Ia hadir di pasar tradisional, di hajatan keluarga, dan di warung-warung kecil yang tak pernah sepi. Namun, di balik kelezatannya, ada tantangan yang mengintai: perubahan iklim, abrasi pantai, dan penurunan populasi lorjuk.
“Kalau lorjuk hilang, bukan cuma makanan yang hilang. Tradisi kita ikut lenyap,” ujar Marsuto, tokoh masyarakat setempat yang aktif dalam pelestarian kuliner lokal.











Tinggalkan Balasan