Bacatrend, SURABAYA – Menjaga tekanan angin pada ban kendaraan ternyata bukan perkara sepele. Tekanan ban yang tidak sesuai standar bisa membahayakan keselamatan pengendara dan menyebabkan boros bahan bakar. Untuk itu, para pengemudi dianjurkan melakukan pengukuran tekanan ban secara berkala dengan cara yang tepat.

Langkah pertama adalah menggunakan alat pengukur tekanan ban atau tire pressure gauge. Alat ini bisa berupa digital atau analog, dan jauh lebih akurat dibanding hanya menekan ban dengan tangan. Pengukuran juga disarankan dilakukan dalam kondisi ban dingin, yaitu saat kendaraan belum digunakan untuk berkendara jauh.

“Ban yang panas akan menunjukkan tekanan yang lebih tinggi dari kondisi sebenarnya. Jadi, sebaiknya cek tekanan di pagi hari atau setelah mobil tidak digunakan selama beberapa jam,” ujar Agus seorang teknisi otomotif dari Surabaya.

Selain itu, pengendara juga perlu memeriksa tekanan sesuai dengan rekomendasi pabrik. Informasi ini bisa ditemukan pada stiker di pintu pengemudi, tutup tangki bensin, atau di buku manual kendaraan. Setiap jenis kendaraan memiliki tekanan ideal yang berbeda antara ban depan dan belakang.
Pengukuran tekanan sebaiknya dilakukan minimal satu bulan sekali, dan juga sebelum melakukan perjalanan jauh.









Jangan lupa memeriksa ban cadangan karena seringkali luput dari perhatian.
Perubahan cuaca juga memengaruhi tekanan ban. Dalam kondisi dingin, tekanan bisa menurun sehingga perlu ditambahkan agar tetap berada dalam batas yang dianjurkan.

Tekanan yang terlalu rendah bisa membuat ban cepat aus, meningkatkan konsumsi bahan bakar, serta membuat kendali kendaraan lebih berat. Sementara tekanan yang terlalu tinggi bisa menyebabkan ban terasa keras, berisiko tergelincir, dan membuat berkendara terasa tidak nyaman.

Dengan mengikuti langkah-langkah tersebut, pengemudi bisa menjaga kenyamanan dan keselamatan berkendara sekaligus memperpanjang usia ban.
Perlu ilustrasi visual untuk berita ini? Saya bisa bantu juga.