Bacatrend, Aceh – Melda Safitri tak pernah menyangka bahwa perjuangannya mendampingi suami menuju status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) akan berujung pada perceraian. Ibu dua anak asal Aceh Singkil ini menjadi sorotan publik setelah diceraikan oleh suaminya, JS, hanya dua hari sebelum pelantikan PPPK. Padahal, Melda telah menjadi bagian penting dari perjalanan sang suami—menyemangati saat gagal, mendukung saat tes, bahkan membelikan baju dinas dari hasil jualan sayur.

Perceraian itu disebut dipicu oleh pertengkaran sepele soal lauk makan. Namun, publik menilai ada ironi yang lebih dalam: seorang istri yang setia mendampingi dari nol justru ditinggalkan saat suami mencapai puncak karier. Video Melda yang menangis saat diantar pulang ke rumah orang tuanya menyebar luas di media sosial, memicu gelombang simpati dan kemarahan. Banyak yang menyebutnya sebagai simbol keteguhan perempuan yang dikhianati oleh ambisi.

Respons publik tak berhenti di simpati. Selebgram dan pengusaha skincare asal Aceh, Shella Saukia, mengundang Melda ke Banda Aceh. Ia diberi bantuan uang tunai, iPhone baru, dan bahkan makeover penampilan. Transformasi Melda menjadi viral kedua—dari istri yang ditinggalkan menjadi perempuan yang bangkit dengan elegan. Warganet menyebutnya sebagai “balasan bermartabat” atas perlakuan suaminya.

Sementara itu, sang suami JS menghadapi tekanan publik. Banyak netizen mendesak agar status PPPK-nya dicabut karena dianggap tidak beretika. BKPSDM Aceh Singkil memanggil JS untuk klarifikasi dan menyatakan bahwa perceraian tidak terjadi secara mendadak, melainkan sudah ada masalah sebelumnya. Namun, narasi publik telah terbentuk: Melda adalah korban dari ego dan ambisi yang tak berimbang.









Kisah Melda membuka ruang diskusi tentang etika personal ASN dan PPPK. Status sebagai abdi negara bukan hanya soal kompetensi birokrasi, tetapi juga tanggung jawab moral terhadap keluarga dan masyarakat. Di tengah reformasi pelayanan publik, kasus ini menjadi pengingat bahwa pencapaian karier tak seharusnya mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan.

Melda kini menjadi simbol keteguhan dan transformasi. Ia menunjukkan bahwa luka bisa menjadi titik balik, dan bahwa perempuan yang ditinggalkan bukanlah akhir cerita—melainkan awal dari babak baru yang lebih kuat. Di balik seragam PPPK, ada kisah yang tak tercatat dalam dokumen negara, tapi hidup dalam ingatan publik sebagai pelajaran tentang cinta, pengorbanan, dan harga diri.