Bacatrend, Purbalingga — Jika hidup adalah panggung, maka Sumanto telah memainkan dua peran paling ekstrem dalam sejarah manusia modern: dulu ditakuti karena memakan jasad manusia, kini ditonton karena memakan sate kambing di depan kamera.

Ya, Sumanto, nama yang dulu membuat satu negeri bergidik ngeri, kini muncul kembali—bukan sebagai tokoh kriminal di halaman koran, melainkan sebagai konten kreator Instagram dengan gaya lucu, santai, dan bahkan… inspiratif?

Di akun Instagram resminya @sumantoofficial_, pria kelahiran 1972 itu tampil nyentrik. Kadang berdaster, kadang bersarung, kadang hanya berkaus lusuh—tapi selalu dengan satu senjata pamungkas: kamera HP dan caption yang membumi. Kontennya beragam, dari mukbang, senam pagi, hingga potongan nasihat hidup yang terdengar seperti renungan dari seorang guru spiritual dadakan.

“Jangan berharap sama manusia…,” tulisnya dalam salah satu unggahan, sambil mengunyah sate dengan lahapnya.









Yang Dulu Menjadi Horor, Kini Jadi Hiburan
Ada yang tertawa. Ada yang tertegun. Tapi sebagian besar… menonton. Ribuan orang—dari yang penasaran, simpati, sampai yang sekadar ingin tahu: benarkah Sumanto sudah berubah?

Setelah menjalani hukuman dan rehabilitasi panjang di rumah sakit jiwa, Sumanto memang memilih hidup tenang. Namun viralitas tak bisa ia hindari. Apalagi ketika seorang warga bernama Supriyanto membantu mengelola akun Instagram dan mulai mendokumentasikan keseharian mantan napi kanibal ini.

Dalam sekejap, @sumantoofficial_ menanjak. Dari seribu pengikut, kini meroket menjadi lebih dari 22 ribu followers. Komentarnya pun campur aduk—ada yang mendoakan, ada yang menyindir, ada yang iseng bertanya, “Masih suka daging manusia, Mas?”
Dan Sumanto? Ia hanya tertawa. Sambil terus makan. Kadang diselingi ceramah, kadang gaya senam “ala-ala”.

Moral, Monetisasi, dan Mitos Baru di Media Sosial
Fenomena ini jelas mengundang pertanyaan besar: apakah ini bentuk rehabilitasi publik? Atau eksploitasi sejarah kelam demi cuan dan klik? Di era algoritma, ketika semua bisa jadi konten, trauma pun bisa dikemas sebagai hiburan. Bahkan kanibalisme bisa “direstorasi” jadi tontonan komedi.

Tapi siapa kita untuk menilai? Di satu sisi, Sumanto memang telah menjalani hukuman. Ia tidak lari dari masa lalu, bahkan menjadikannya bagian dari perjalanan hidup yang dibagikan ke publik. Di sisi lain, publik—dengan rasa penasaran dan selera ironi—mendorong konten ini makin viral.

Kini, Sumanto bukan hanya mantan terpidana. Ia adalah simbol zaman, di mana dosa masa lalu bisa direkonstruksi menjadi brand personal. Ia adalah bukti bahwa semua orang bisa viral—asal punya cerita, kamera, dan sedikit keberanian untuk berdamai dengan masa lalu.

Penutup: Dari Daging ke Digital
Sumanto tidak lagi hidup dari daging manusia. Ia hidup dari engagement. Dari like, komentar, dan konten yang mengundang tawa getir. Dalam satu postingan, ia menulis:

“Yang penting saya tidak menyakiti siapa-siapa. Saya ingin menghibur.”

Dan entah kita menganggapnya sungguh-sungguh atau hanya sekadar tontonan absurd, satu hal pasti: di era media sosial, semua bisa dimakan. Bahkan sejarah.