Cerita Tim Rescue Selamatkan Haikal dari Ujung Celah Puing Bangunan Ponpes Al Khoziny
Bacatrend, Sidoarjo — Di balik puing-puing Pondok Pesantren Al Khoziny yang runtuh, tim penyelamat dari DPKP Surabaya dan Basarnas menghadapi medan yang nyaris mustahil. Mereka tidak sekadar mengevakuasi korban—mereka menantang batas ruang, waktu, dan ketahanan manusia demi nyawa para santri, salah satunya adalah Haikal.
Tubuh Haikal terjepit di bawah bordes beton. Di depannya, terbujur jenazah temannya. Di sekelilingnya, material bangunan yang bisa runtuh kapan saja. Ia sadar, tapi tak bisa bergerak. Ia berteriak, dan jeritannya menjadi kompas bagi tim penyelamat.
“Kami hanya punya ruang beberapa sentimeter untuk menyusup, kadang hanya cukup untuk satu kepala,” ujar Kepala DPKP Surabaya, Laksita Rini Sevriani.

Dengan kamera pencari dan sensor suara, tim menyusup ke celah-celah sempit. Mereka mendengar suara Haikal, merangkak menuju titik yang nyaris tak bisa dijangkau. Setiap langkah adalah pertaruhan. Setiap suara adalah harapan.
Evakuasi berlangsung lebih dari satu hari. Tim harus mengatur ulang strategi berkali-kali, menghindari pergeseran puing yang bisa memicu runtuhan susulan. Mereka menyelipkan makanan dan minuman lewat celah selebar jari, menjaga kesadaran Haikal yang mulai melemah.
“Kami terus berkomunikasi. Memberi semangat, menyampaikan bahwa kami akan menolong. Bahkan sempat menyelipkan makanan dan minuman lewat celah, agar kesadarannya tetap terjaga,” kata Laksita.
Di tengah kegelapan dan ancaman runtuhan, penyelamatan Haikal bukan sekadar operasi teknis. Ini adalah ujian kemanusiaan. Tim berhadapan dengan trauma, ketakutan, dan harapan yang tergantung pada detik-detik.
Ketika akhirnya Haikal berhasil dikeluarkan, ia dalam kondisi kritis. Status kuning. Tapi hidup. Dan itu cukup untuk membuat seluruh tim terdiam dalam haru.
Operasi gabungan melibatkan dua tim rescue dari Surabaya, masing-masing berisi 6–8 personel. Mereka menyusup, merangkak, dan bertahan di ruang sempit demi satu tujuan: menyelamatkan nyawa yang masih bertahan di bawah reruntuhan.
Haikal bukan satu-satunya. Yusuf, santri lain, berhasil dievakuasi lebih dulu. Tapi misi menyelamatkan Haikal menjadi simbol: bahwa di bawah puing, harapan masih bisa ditemukan. Bahwa nyawa manusia layak diperjuangkan, bahkan ketika dunia seolah runtuh.











Tinggalkan Balasan