Bacatrend, Sulawesi – Di Desa Batu Lappa, Kecamatan Larompong Selatan, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, sebuah kisah cinta yang tak biasa mencuri perhatian publik. Seorang pria berusia 71 tahun, H. Buhari, menikahi gadis muda berusia 18 tahun berinisial TA, yang masih duduk di bangku SMA. Pernikahan mereka pada Minggu (5/4) sontak menjadi viral, memicu perdebatan panjang di media sosial.

Kabar itu menyebar cepat, lebih cepat dari angin sore yang berhembus di antara pepohonan desa. Warga berkerumun, sebagian tak percaya, sebagian lain menganggapnya tak lebih dari takdir yang tak bisa ditolak. Di tengah riuh komentar publik, kisah ini bergulir seperti drama kehidupan yang melampaui batas usia dan norma sosial.

Kepala Desa Batu Lappa, Muhammad Arsad, menegaskan bahwa pemerintah desa tidak terlibat dalam proses pernikahan tersebut. “Orang tuanya yang menikahkan. Saya juga tidak hadir karena sedang berada di Kabupaten Barru,” ujarnya. Menurut Arsad, hubungan keduanya terjalin atas dasar suka sama suka. “Saya lihat dari video yang beredar, pengantin perempuan bahkan tampak bergembira,” katanya.

Namun, fakta hukum tak bisa diabaikan. Usia TA yang baru 18 tahun belum memenuhi syarat minimal pernikahan sesuai Undang-Undang Perkawinan, yakni 19 tahun. Arsad pun mengakui hal itu dengan nada hati-hati. “Kalau umur 18 tahun tentu belum memenuhi syarat sesuai undang-undang,” tuturnya.









Di balik senyum pengantin muda itu, ada kontras antara cinta dan aturan, antara tradisi dan hukum. Di satu sisi, ada cinta yang dikatakan tulus, di sisi lain ada batasan yang ditetapkan negara.

Dari sisi ekonomi, H. Buhari dikenal sebagai sosok mapan dengan lahan kebun yang luas. Sementara keluarga TA hidup sederhana, bekerja di tambak empang. Perbedaan itu, bagi sebagian warga, dianggap sebagai alasan mengapa pernikahan ini bisa terjadi—sebuah simbiosis antara cinta dan kenyamanan hidup.

Namun, di era digital, kisah ini menjadi ironi. Ketika cinta muda sering diukur lewat likes dan followers, kisah Buhari dan TA justru menembus batas algoritma. Ia viral bukan karena kemewahan, melainkan karena keberanian dua hati yang menantang pandangan dunia.

Kini, di Batu Lappa, pernikahan itu menjadi legenda baru. Sebagian menyebutnya kisah cinta sejati, sebagian lain menyebutnya pelanggaran moral. Tapi satu hal pasti: di tengah perdebatan, H. Buhari dan TA telah menulis babak baru dalam sejarah kecil desa mereka—sebuah kisah yang akan terus dikenang, entah sebagai cinta yang melampaui usia, atau sebagai cermin dari realitas sosial yang tak pernah sederhana.