Dari Gurun ke Mojokerto, Ketika Unta Australia Menjadi Primadona Baru Tanah Majapahit
Bacatrend, Mojokerto – Pagi di Dusun Dateng, Desa Watesnegoro, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, sebenarnya tak berbeda jauh dari desa-desa lain di Jawa Timur. Udara masih bercampur aroma rumput basah, suara ayam bersahutan dari pekarangan warga, dan truk-truk pengangkut pasir kali sesekali melintas meninggalkan debu tipis di jalan desa.
Namun beberapa bulan terakhir, ada pemandangan yang membuat banyak orang mendadak mengucek mata dua kali.
Di balik pagar kandang sederhana milik Berkah Wafa Farm, empat ekor unta berjalan tenang di atas hamparan pasir. Leher panjang mereka menjulang di antara pohon pisang dan rumpun bambu. Punuk besar di punggungnya tampak kontras dengan latar sawah hijau khas Mojokerto.
Ini bukan Timur Tengah. Bukan pula gurun Sahara.
Ini Jawa Timur.
Dan unta-unta itu kini menjadi “warga baru” tanah Majapahit.
“Awalnya warga kira cuma numpang lewat buat sirkus atau acara tertentu,” ujar Faisal Effendi, pengelola Berkah Wafa Farm, sambil tersenyum kecil melihat antusiasme pengunjung yang tak henti berdatangan.

Siapa sangka, hewan yang selama puluhan tahun identik dengan padang pasir Arab itu kini justru dipelihara serius di tengah iklim tropis Indonesia. Lebih mengejutkan lagi, unta-unta tersebut bukan didatangkan dari Arab Saudi, melainkan dari Australia—negara yang justru menganggap populasi unta liar sebagai masalah besar.
Di Australia, jutaan unta hidup bebas di wilayah gurun pedalaman. Mereka berkembang biak tanpa kontrol sejak didatangkan pada abad ke-19 sebagai alat transportasi ekspedisi gurun. Kini, populasinya dianggap berlebihan dan bahkan dikategorikan hama karena merusak ekosistem serta sumber air. Dari sanalah Faisal melihat peluang yang nyaris tak dilirik orang lain.
“Kalau di sana dianggap masalah, kenapa tidak dicoba jadi peluang di sini?” katanya.
Ide itu terdengar gila. Bahkan mungkin terlalu nekat.
Membawa hewan gurun ke Indonesia bukan sekadar urusan membeli lalu mengirim. Ada proses karantina panjang, pengawasan kesehatan ketat, hingga perizinan lintas negara yang memakan waktu hampir satu tahun. Faisal harus bolak-balik mengurus administrasi sebelum akhirnya Kementerian Pertanian memberi lampu hijau.
Dari total sekitar 30 ekor unta yang masuk secara kolektif ke Indonesia, sebagian disebar ke kebun binatang dan tempat wisata edukasi. Sementara Berkah Wafa Farm mempertahankan beberapa ekor sebagai indukan untuk program pengembangbiakan.
Langkah itu menjadikan Mojokerto sebagai salah satu titik paling unik dalam peta peternakan Indonesia hari ini.
Sebab yang sedang dicoba Faisal bukan sekadar memelihara hewan eksotis.
Ia sedang menguji kemungkinan lahirnya industri baru.
Di kandang miliknya, perlakuan terhadap unta dibuat sangat khusus. Lantai kandang dilapisi pasir kali agar tetap kering sekaligus menyerupai habitat asli. Pasir itu juga menjadi tempat favorit unta untuk berguling dan “mandi debu”. Pakan mereka didominasi rumput kering, ditambah comboran serta vitamin rutin.
Yang mengejutkan, menurut Faisal, unta justru jauh lebih mudah dirawat dibanding sapi.
“Kalau sapi gampang stres dan sering berontak. Unta lebih tenang, lebih pintar,” tuturnya.
Pernyataan itu mungkin terdengar berlebihan, tetapi kondisi fisik unta-unta di Berkah Wafa Farm memang menunjukkan adaptasi yang cukup mencengangkan. Saat pertama tiba dari Australia, tubuh mereka kurus akibat perjalanan panjang. Kini, hanya dalam waktu sekitar dua bulan, badannya mulai berisi dan tampak jauh lebih sehat.
Bagi warga sekitar, kehadiran unta menjadi hiburan baru yang nyaris surreal. Anak-anak desa datang beramai-ramai sepulang sekolah hanya untuk melihat langsung hewan yang selama ini mereka kenal lewat buku pelajaran agama atau tayangan televisi tentang Timur Tengah.
Beberapa pengunjung bahkan sengaja membawa wortel untuk diberikan langsung kepada unta. Momen itu cepat berubah menjadi atraksi dadakan yang ramai direkam ponsel dan menyebar di media sosial.
Tanpa tiket masuk. Tanpa wahana modern.
Namun daya tariknya luar biasa.
Berkah Wafa Farm perlahan berubah menjadi destinasi wisata spontan di pedesaan Mojokerto.
Di sisi lain, perhatian publik juga mulai mengarah pada satu hal sensitif: kurban.
Dalam syariat Islam, unta memang termasuk hewan sah untuk kurban dan bahkan bisa diniatkan untuk tujuh orang sekaligus. Namun harga menjadi pembeda utama. Untuk seekor unta usia produktif, Faisal mematok harga sekitar Rp200 juta.
Harga itu membuat unta otomatis masuk kategori “hewan kurban sultan”.
Meski begitu, Faisal mengaku mulai ada calon pembeli yang tertarik. Bukan semata karena nilai religius, tetapi juga unsur prestise, edukasi, dan keunikan.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan lebih besar: mungkinkah unta menjadi alternatif baru peternakan Indonesia?
Di tengah ancaman penyakit ternak seperti PMK dan LSD yang sempat mengguncang populasi sapi nasional, unta dianggap memiliki daya tahan tubuh lebih baik terhadap kondisi ekstrem. Jika benar mampu beradaptasi dengan iklim tropis, bukan tidak mungkin hewan ini suatu hari memiliki pasar tersendiri di Indonesia.
Tentu jalannya masih panjang.
Belum ada jaminan unta akan berkembang biak optimal di Jawa Timur. Belum ada pula kepastian apakah pasar premium cukup kuat menopang bisnis tersebut dalam jangka panjang.
Tetapi sejarah sering lahir dari ide-ide yang awalnya terdengar mustahil.
Dan di sebuah sudut Mojokerto yang tenang, di antara debu pasir kali dan aroma kandang ternak, empat ekor unta kini seolah sedang membuka bab pertama dari kemungkinan baru itu.
Mereka berdiri tenang menatap hamparan sawah.
Seakan lupa bahwa leluhur mereka berasal dari gurun ribuan kilometer jauhnya.












Tinggalkan Balasan