Bacatrend, Ponorogo – Di tengah hiruk pikuk kuliner modern, dawet tetap bertahan sebagai minuman tradisional yang tak lekang oleh waktu. Minuman khas Jawa ini bukan sekadar pelepas dahaga, tetapi juga menyimpan sejarah panjang sejak abad ke-10 di Ponorogo, ketika dawet disebut dalam prasasti Taji sebagai bagian dari upacara adat.

Dawet dikenal dengan cendol kenyal berbahan tepung beras atau sagu, disajikan bersama santan gurih dan sirup gula merah yang manis legit. Perpaduan rasa ini menjadikannya minuman yang segar sekaligus mengenyangkan. Tak heran, dawet sering hadir dalam hajatan pernikahan adat Jawa sebagai simbol kesuburan dan kebahagiaan.

Resep tradisional dawet cukup sederhana. Tepung beras dicampur dengan air pandan lalu dimasak hingga mengental, kemudian dicetak menjadi butiran cendol. Kuah santan direbus bersama daun pandan untuk aroma harum, sementara gula merah dilelehkan menjadi sirup kental. Ketiga komponen ini kemudian disajikan dalam mangkuk atau gelas dengan tambahan es batu.

Seiring waktu, dawet berkembang menjadi berbagai varian. Dawet Ayu Banjarnegara terkenal dengan rasa manis gurihnya, sementara Dawet Ireng Purworejo menggunakan pewarna alami dari abu merang sehingga cendol berwarna hitam. Inovasi modern juga menghadirkan dawet tape atau dawet durian, menambah kekayaan cita rasa.









Menjelang Ramadan, dawet kembali menjadi sorotan. Teksturnya yang lembut, rasa manis gula merah, dan kesegaran santan membuat dawet sangat cocok sebagai menu pembuka saat berbuka puasa. Minuman ini mampu mengembalikan energi setelah seharian berpuasa, sekaligus menghadirkan nuansa tradisi yang hangat di meja makan keluarga.

Selain nilai budaya, dawet juga memiliki potensi ekonomi. Banyak UMKM di pasar tradisional maupun festival kuliner menjadikan dawet sebagai produk unggulan. Dengan harga terjangkau dan cita rasa yang familiar, dawet tetap digemari lintas generasi.

Kesimpulannya, dawet bukan sekadar minuman, melainkan warisan kuliner Nusantara yang menyatukan sejarah, tradisi, dan cita rasa. Di bulan Ramadan, segelas dawet dingin bisa menjadi pembuka yang sempurna, menghadirkan kesegaran sekaligus nostalgia akan kekayaan kuliner Jawa.