De Djawatan, Hutan Magis Banyuwangi yang Menyimpan Nafas Zaman
Bacatrend, Surabaya – Di sudut tenang Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, Jawa Timur, berdiri sebuah hutan yang seolah tercabut dari lembaran dongeng.
Namanya, De Djawatan. Bukan sekadar destinasi wisata, tempat ini adalah pertemuan antara sejarah kolonial, keajaiban alam, dan imajinasi manusia yang tak pernah padam.
Begitu kaki melangkah ke dalam kawasan seluas hampir 4 hektar ini, dunia luar seakan menghilang. Deretan pohon trembesi raksasa—beberapa berusia lebih dari satu abad—menjulang dengan akar menjalar dan kanopi lebar yang membentuk lorong-lorong cahaya.
Pakis dan benalu menggantung di batang-batangnya, menciptakan siluet yang menyerupai hutan Fangorn dalam film The Lord of the Rings. Tak heran, banyak yang menyebutnya sebagai “hutan magis Banyuwangi.”
Namun De Djawatan bukan hanya soal estetika. Pada masa kolonial Belanda, kawasan ini digunakan sebagai tempat penimbunan kayu jati oleh Perhutani.
Kini, ia menjelma menjadi ruang publik yang hidup—tempat anak-anak berlarian di bawah naungan pepohonan, pasangan muda berfoto prewedding, hingga seniman yang mencari inspirasi di antara bisikan angin dan aroma tanah basah.
Setiap akhir pekan, ratusan pengunjung datang untuk menikmati udara segar, menunggang kuda, atau sekadar duduk di bangku kayu sambil menyeruput kopi dari warung lokal.
Namun, datanglah di hari biasa, dan kamu akan menemukan keheningan yang nyaris spiritual—sebuah meditasi alam terbuka.
De Djawatan adalah bukti bahwa Banyuwangi tak hanya punya pantai dan kawah, tapi juga hutan yang menyimpan napas zaman. Ia adalah ruang di mana masa lalu dan masa kini berdialog lewat akar dan dedaunan.











Tinggalkan Balasan