Bacatrend, Surabaya – Pemerintah Kota Surabaya bersama Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) menggelar deklarasi bertajuk “Sumpah 100% Arek Suroboyo” di Plaza Internatio. Acara ini diikuti oleh pemuda Karang Taruna serta perwakilan pemuda lintas suku yang ada di Kota Surabaya.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, hadir bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani, serta jajaran perangkat daerah. Dalam kesempatan tersebut, Eri mengingatkan generasi muda agar tidak mudah terprovokasi isu yang dapat memecah belah warga kota. “Maka arek-arek Surabaya jangan pernah terprovokasi. Jangan pernah arek Surabaya diadu,” tegasnya.

Eri menekankan bahwa Surabaya dibangun dari semangat kebersamaan berbagai suku dan budaya. Ia mengajak pemuda untuk menolak segala bentuk diskriminasi berbasis suku, agama, ras, maupun golongan. “Maka saya minta anak-anak Surabaya, tolong jaga Kota Surabaya dengan keberanian, tapi dengan sifat yang beradab dan santun sesuai aturan. Surabaya ketika terjadi hal seperti itu (diskriminasi) tidak boleh diam. Surabaya harus tegas berani menentukan,” ujarnya.

Dalam pidatonya, Eri menyinggung kasus pengrusakan rumah seorang nenek yang sempat memicu sentimen diskriminasi. Ia menegaskan bahwa Surabaya adalah kota hukum, sehingga setiap masalah harus diselesaikan melalui jalur hukum, bukan dengan kekerasan. Ia juga mengapresiasi aparat kepolisian yang telah menangkap pelaku sebagai bukti penegakan hukum berjalan.









Untuk memperkuat keamanan kota, Eri mengumumkan pembentukan Satgas Anti Premanisme yang melibatkan unsur TNI, Polri, Kejaksaan, serta tokoh-tokoh suku di Surabaya. “Maka, hari ini tidak ada lagi premanisme di Kota Surabaya. Kita harus berani melawan premanisme. Kita harus satu, tapi dengan sisi hukum yang berjalan,” katanya.

Ia menambahkan, Pemkot Surabaya akan mengumpulkan seluruh organisasi masyarakat dan perwakilan suku pada 31 Desember 2025 untuk berikrar bersama melawan premanisme. “Saya titipkan Kota Surabaya kepada pemuda. Saya dan seluruh jajaran pemerintah kota hanya bisa menjaga. Tapi yang punya nasib kota ini adalah kalian semuanya para pemuda Kota Surabaya. Jangan pernah mau rumah kita dibakar, dirusak oleh orang lain, dijadikan perang suku,” pungkasnya.