Bacatrend, Madura – Di balik hiruk-pikuk karapan sapi dan aroma sate yang membumbung di udara Madura, tersembunyi satu hidangan yang tak banyak dikenal tapi menyimpan keagungan rasa dan sejarah: dhun adhun. Bukan sekadar makanan, dhun adhun adalah manifestasi budaya, simbol kemakmuran, dan doa yang tersaji dalam mangkuk berkuah kuning keemasan.

Konon, dhun adhun lahir dari dapur-dapur rakyat Sampang sejak zaman kolonial. Ia tumbuh bersama tradisi, hadir dalam pesta pernikahan, ritual adat, dan sarapan pagi yang penuh harapan. Setiap sendoknya adalah nyanyian daun-daunan, tarian rempah, dan bisikan leluhur yang tak ingin dilupakan.

🍲 Resep Dhun Adhun: Warisan yang Bisa Kamu Cicipi

🧄 Bahan Utama:









1 ekor ayam kampung, potong sesuai selera

3 lembar daun jeruk

2 batang serai, geprek

2 ruas kayu manis

1 sachet santan instan

Gula dan garam secukupnya

🌶️ Bumbu Halus:

6 siung bawang putih

10 siung bawang merah

10 buah cabai merah

4 cm jahe, lengkuas, dan kunyit

¼ sdt merica, ketumbar, jinten

3 butir cengkeh, 1 buah pala

6 butir kemiri

🥣 Cara Membuat:

Rebus ayam hingga empuk dan kaldunya keluar

Tumis bumbu halus bersama daun jeruk, serai, dan kayu manis hingga harum

Masukkan tumisan ke dalam rebusan ayam, tambahkan santan

Koreksi rasa dengan gula dan garam

Sajikan dengan lontong, tauge, dan serundeng jagung

🌾 Keunikan yang Membuatnya Tak Tergantikan

Kuah kuning rempah yang hangat dan menyembuhkan

Topping musiman: pepaya muda, labu, atau daun singkong

Simbol sosial: hanya disajikan oleh juru masak terpilih dalam acara adat

Langka dan eksklusif: hanya ditemukan di Sampang, jarang dijual di daerah lain