Di Balik Rimbunnya Hutan Andongsari, Menyibak Keajaiban Tancak Kembar
Bacatrend, Bondowoso — Di tengah sunyi hutan lindung Desa Andongsari, Kecamatan Pakem, tersembunyi sepasang air terjun yang mengalir berdampingan seperti saudara kembar.
Warga menyebutnya Tancak Kembar, sebuah nama yang tak hanya merujuk pada bentuknya, tetapi juga menyimpan kisah mistis dan keindahan yang belum banyak dijamah wisatawan.
Perjalanan menuju Tancak Kembar bukan sekadar wisata, melainkan petualangan. Dari pusat kota Bondowoso, pengunjung harus menempuh sekitar 22 kilometer, melewati jalanan berbatu dan jalur setapak yang menembus hutan. Namun, setiap langkah terbayar lunas saat suara gemuruh air mulai terdengar, menandai bahwa keajaiban alam itu semakin dekat.
Sesampainya di lokasi, dua aliran air terjun menjulang dari tebing setinggi sekitar 70 meter. Debit airnya deras dan jernih, bahkan saat kemarau panjang. Di bawahnya, kolam alami terbentuk, dikelilingi pepohonan hijau dan kabut tipis yang menari di udara pagi.
Suasana yang tercipta bukan hanya menenangkan, tapi juga memikat secara visual—sebuah lanskap yang seolah keluar dari lukisan alam.
Namun Tancak Kembar bukan sekadar panorama. Di balik gemuruh airnya, tersimpan legenda Dewi Rengganis, sosok mistis yang konon menjadikan air terjun ini sebagai tempat mandi. Warga percaya, siapa pun yang membasuh diri di sini akan diberkahi kecantikan dan awet muda. Mitos itu hidup dalam cerita lisan, diwariskan dari generasi ke generasi, menambah lapisan budaya pada destinasi ini.
“Dulu, nenek saya bilang kalau mandi di Tancak Kembar bisa bikin wajah berseri. Tapi kami juga diajarkan untuk menghormati tempat ini, karena bukan sekadar air terjun biasa,” ujar Siti, warga Andongsari yang sesekali menjadi pemandu lokal.
Meski belum dikelola secara komersial, Tancak Kembar mulai menarik perhatian para pencinta alam dan fotografer. Tiket masuknya hanya Rp 5.000, dengan fasilitas sederhana seperti saung dan jembatan bambu. Namun, daya tarik utamanya tetap pada keaslian dan ketenangan yang ditawarkan.
Di era ketika wisata alam sering dikemas dalam kemewahan dan keramaian, Tancak Kembar hadir sebagai antitesis: sebuah tempat yang mengajak pengunjung untuk diam, mendengar, dan merasakan. Di sini, alam bukan sekadar latar, tapi tokoh utama yang berbicara lewat gemuruh air dan bisik angin.











Tinggalkan Balasan