Di Punggung Naga Jollong, Ketika Legenda, Buah, dan Kabut Menyatu
Bacatrend, Pati — Kabut pagi masih menggantung di lereng Jollong ketika suara anak-anak mulai terdengar dari kejauhan. Mereka berlarian di antara kebun buah naga yang menjulang seperti sisik merah raksasa. Di tengah hamparan hijau, berdiri sebuah patung naga besar, mulutnya menganga ke arah lembah, seolah menjaga rahasia tua yang tertanam di tanah ini.
Bukit Naga Jollong bukan sekadar taman selfie. Ia adalah pertemuan antara mitos dan realitas, antara legenda yang diwariskan secara lisan dan agrowisata yang tumbuh dari tanah subur Pegunungan Muria.
“Dulu, orang tua kami bilang ada naga yang tidur di bukit ini. Kalau kabut turun tebal, itu tandanya ia sedang bernafas,” ujar Sumarni (58), warga Sitiluhur yang kini menjadi pemandu lokal. Ia menyambut pengunjung dengan senyum hangat dan cerita-cerita yang membuat anak-anak terdiam penuh takjub.
Legenda naga itu kini menjadi ikon. Patung naga raksasa dibangun di puncak bukit, menjadi latar favorit bagi wisatawan yang datang dari berbagai daerah. Tapi daya tarik Jollong bukan hanya mitos.
Di musim panen, pengunjung bisa memetik buah naga langsung dari pohonnya. Rasanya manis segar, dan menurut warga, lebih nikmat jika dimakan sambil duduk di bawah pohon kopi yang tumbuh di lereng bukit.
“Buah naga di sini beda. Tanahnya subur, udaranya dingin, jadi rasanya lebih kuat,” kata Riko (32), petani muda yang kini mengelola kebun buah naga bersama kelompok tani desa.
Selain buah naga, kopi Jollong juga mulai dikenal. Kedai kecil di sisi bukit menyajikan kopi robusta lokal yang diseduh perlahan, sambil pengunjung menikmati pemandangan Waduk Seloromo dan Gunung Muria dari kejauhan.
Bukit Naga Jollong kini menjadi ruang belajar terbuka. Anak-anak diajak mengenal tanaman, mendengar cerita rakyat, dan bermain di taman kecil yang dibangun oleh warga. Tidak ada wahana mewah, tapi ada kehangatan yang tumbuh dari interaksi manusia dan alam.
“Wisata ini bukan hanya soal foto. Kami ingin anak-anak tahu bahwa tanah ini punya cerita, punya kehidupan,” ujar Lilis (41), guru SD yang rutin membawa muridnya ke Jollong.
Ketika matahari mulai naik, kabut perlahan menghilang. Tapi cerita tentang naga, tentang buah yang tumbuh dari tanah legenda, dan tentang warga yang menjaga warisan itu tetap hidup—semuanya tetap tinggal di hati mereka yang pernah singgah.
Bukit Naga Jollong bukan hanya tempat. Ia adalah narasi yang terus ditulis oleh alam dan manusia.











Tinggalkan Balasan