Bacatrend, JAKARTA – Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Nihayatul Wafiroh menyoroti lonjakan kasus influenza A H3N2 atau yang populer disebut “superflu” dan mendesak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) segera mengambil langkah cepat, terukur, dan transparan dalam penanganannya.

“Jika vaksin yang ada tidak memberikan perlindungan yang memadai terhadap subclade K, kami minta Kemenkes segera melakukan uji ulang, transparan dalam publikasi hasilnya, dan menyusun rencana antisipasi vaksin alternatif yang lebih manjur,” ujar Nihayatul, yang akrab disapa Ninik, di Jakarta.

Latar Belakang Kasus Superflu
Kementerian Kesehatan RI sebelumnya mengonfirmasi bahwa varian influenza A H3N2 subclade K telah terdeteksi di Indonesia sejak 25 Desember 2025 melalui pemeriksaan genomik Balai Besar Laboratorium Kesehatan. Varian ini dikenal memiliki tingkat penularan tinggi, meski belum terbukti secara ilmiah lebih ganas dibanding varian influenza lain.

Plt. Direktur Penyakit Menular Kemenkes, dr. Prima Yosephine, menegaskan bahwa pemantauan genomik terus dilakukan. “Influenza A (H3N2) subclade K telah ditemukan di Indonesia. Meski belum terbukti lebih ganas, penularannya sangat cepat sehingga perlu kewaspadaan,” ujarnya.









Kekhawatiran DPR dan Pakar
Komisi IX DPR menilai Kemenkes harus lebih proaktif dalam memastikan efektivitas vaksin influenza yang beredar. Hal ini sejalan dengan pandangan epidemiolog Universitas Airlangga, Dr. Windhu Purnomo, yang menyebut superflu berpotensi memicu lonjakan kasus dalam waktu singkat. “Superflu ini bukan hanya cepat menyebar, tapi juga bisa memicu lonjakan kasus jika tidak dikendalikan,” katanya.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga mengingatkan bahwa anak-anak, lansia, dan penderita komorbid merupakan kelompok paling rentan. “Gejala tetap sama: demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, hingga rasa tidak enak badan. Namun komplikasi bisa lebih serius pada kelompok rentan,” jelas dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K).

Kemenkes mengimbau masyarakat untuk memperkuat protokol kesehatan, seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menghindari kerumunan. Vaksinasi influenza tetap menjadi salah satu cara paling efektif untuk menekan risiko komplikasi.

Namun, DPR menekankan perlunya evaluasi ulang efektivitas vaksin terhadap subclade K. “Transparansi hasil uji vaksin sangat penting agar masyarakat percaya dan siap menghadapi musim flu ini,” tegas Nihayatul.

Desakan DPR RI mencerminkan kekhawatiran bahwa superflu H3N2 bisa menjadi ancaman kesehatan publik bila tidak ditangani dengan cepat dan sistematis. Dengan koordinasi antara Kemenkes, lembaga penelitian, dan DPR, diharapkan strategi vaksinasi dan pencegahan bisa lebih adaptif menghadapi varian influenza yang terus bermutasi.