Dua Hari Penuh Harap Di Sampean Baru, Nawadi Ditemukan Tak Bernyawa
Bacatrend, Bondowoso – Di bawah cakrawala yang kelabu, di antara gemuruh air yang tak berhenti beriak, kisah Nawadi (71) berakhir dengan pilu.
Laki-laki paruh baya itu, yang hanya berniat membersihkan diri di sungai Sampean Baru Kecamatan Prajekan, Bondowoso, menghilang tanpa jejak.
Dua hari pencarian yang dipenuhi harapan dan doa akhirnya menemui titik akhir yang pahit.
Selasa (10/06) pukul 11.00 WIB, tubuhnya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa, terbujur di pelukan arus yang telah membawanya sejauh 6,3 kilometer dari tempat terakhir ia terlihat.
Bagi keluarganya, kehilangan ini bukan sekadar berita duka—melainkan luka yang menganga, pertanyaan yang tak pernah mendapat jawaban.
Nawadi pamit sore itu, pukul 16.30 WIB, dengan niat sederhana: mandi di sungai.
Namun waktu berlalu, senja bergulir menjadi malam, dan Nawadi tak kunjung kembali. Hanya perlengkapan mandinya yang tertinggal, diam di tepi sungai seperti saksi bisu yang tak mampu berbicara.
Ketakutan mulai merayap, mengubah kepanikan menjadi deru pencarian. Warga sekitar turun tangan, berusaha menembus misteri yang menyelimuti air yang tenang namun penuh rahasia.
Namun Nawadi tetap tak ditemukan. Keluarga pun melaporkan kejadian ini ke Polsek Prajekan dan Pusdalops BPBD Bondowoso, sebelum akhirnya laporan tersebut sampai ke Pos SAR Jember pada Minggu (9/6) pukul 20.00 WIB.
Tak ingin ada waktu yang terbuang, Kantor SAR Surabaya segera mengerahkan tim rescue.
Mereka berkejaran dengan waktu, dengan harapan, dengan kemungkinan bahwa Nawadi masih bisa ditemukan dalam keadaan hidup. Namun air selalu menyimpan rahasianya dengan sunyi.
Hari kedua pencarian menjadi saksi bisu saat tubuh Nawadi akhirnya ditemukan. Harapan yang sempat menyala kini padam, berganti isak tangis dan rasa kehilangan yang meresap ke dalam jiwa.
Upaya penyelamatan yang melibatkan berbagai pihak—BPBD Bondowoso, Polsek Prajekan, Koramil Prajekan, Siluman Rescue, Aparatur Desa, Warakai Rescue, Bosamba Rafting, PMI Bondowoso, dan relawan lainnya—berakhir dengan kesedihan mendalam.
Setelah evakuasi, Nawadi dibawa ke Puskesmas Prajekan, bukan untuk disembuhkan, tetapi untuk dipastikan bahwa tak ada lagi napas tersisa dalam dirinya.
“Saya ucapkan terima kasih pada seluruh personil tim SAR gabungan atas kerja sama yang telah terjalin dengan baik sehingga kita bisa menemukan Bapak Nawadi,” ungkap Nanang Sigit P. H., S.IP., M.M., SAR Mission Coordinator dalam operasi ini.
Namun ucapan itu, meski penuh rasa hormat, tak bisa menghapus kesedihan keluarga yang kini harus menerima kenyataan pahit.
Sampean Baru kembali mengalir, membawa kisah tragis yang menjadi bagian dari alirannya.
Sementara itu, di tepian, keluarga Nawadi hanya bisa mengenang—bahwa laki-laki sederhana itu telah kembali ke alam, menyatu dengan arus yang dulu membawanya pergi.











Tinggalkan Balasan