Bacatrend, PATI — Di tengah geliat pembangunan dan hiruk-pikuk jalan raya Pati–Kudus, berdiri sebuah gerbang megah berwarna bata merah yang seolah menantang waktu. Gapura Majapahit, begitu masyarakat menyebutnya, bukan sekadar bangunan. Ia adalah simbol, pengingat akan kejayaan masa silam yang pernah mengakar kuat di tanah Jawa.

Berada di Desa Rendole, Kecamatan Margorejo, gapura ini menyambut pengunjung dengan aura klasik yang khas. Desainnya menyerupai candi bentar—gerbang terbelah tanpa atap—yang lazim ditemukan dalam arsitektur Majapahit dan Bali. Meski bukan peninggalan asli dari abad ke-14, bangunan ini dibangun dengan semangat pelestarian, menghidupkan kembali narasi kejayaan Majapahit dalam wujud yang bisa disentuh dan dinikmati masyarakat masa kini.

“Gapura ini jadi tempat favorit warga untuk berfoto, terutama saat sore hari. Tapi lebih dari itu, ia mengingatkan kita bahwa kita punya warisan budaya yang luar biasa,” ujar Roni, seorang guru sejarah lokal yang kerap membawa murid-muridnya berkunjung ke lokasi.

Tak hanya menjadi latar swafoto yang estetik, Gapura Majapahit juga mulai dilirik sebagai destinasi wisata edukatif. Beberapa komunitas budaya telah menggelar diskusi dan pertunjukan seni di area sekitar gapura, menjadikannya ruang publik yang tak hanya indah secara visual, tapi juga kaya makna.









Namun, harapan masih menggantung. Beberapa pengunjung berharap ada papan informasi sejarah atau pemandu lokal yang bisa menjelaskan lebih dalam tentang arsitektur dan filosofi Majapahit. “Kalau bisa ditambah elemen edukatif, tempat ini bisa jadi lebih dari sekadar spot foto,” kata Nia, mahasiswa arkeologi yang datang dari Semarang.

Meski begitu, Gapura Majapahit tetap berdiri anggun, menjadi saksi bisu bagaimana masa lalu dan masa kini bisa berdialog dalam diam. Di antara lalu lintas kendaraan dan langkah kaki yang terus bergerak, gapura ini mengajak siapa pun yang melintas untuk berhenti sejenak—menyusuri jejak kejayaan yang tak lekang oleh zaman.