Bacatrend, Salatiga – Di sebuah sudut Salatiga yang tak terlalu bising, aroma kelapa sangrai dan lada yang menyengat menyeruak dari dapur sederhana milik Bu Sri. Di sanalah, sepiring gecok kambing—hidangan khas yang nyaris tak dikenal di luar kota ini—menjadi saksi bisu tradisi kuliner yang bertahan di tengah arus modernisasi.

Gecok bukan sekadar gulai. Ia adalah pernyataan rasa. Daging kambing yang telah direbus lama hingga empuk, disiram kuah santan yang kaya rempah, lalu ditaburi kelapa parut sangrai yang memberi tekstur dan aroma khas. Tak ada kemewahan dalam penyajiannya—hanya piring enamel, nasi hangat, dan sambal terasi yang menggoda.

“Resep ini dari ibu saya, dulu jualan di pasar pakai pikulan,” kata Bu Sri, sambil mengaduk kuah yang mulai mendidih. Tangannya cekatan, tapi penuh kelembutan. Di warungnya yang hanya berkapasitas belasan orang, pelanggan datang silih berganti. Beberapa dari mereka adalah langganan sejak puluhan tahun.

Yang membuat gecok kambing istimewa bukan hanya rasanya, tapi juga konteksnya. Di Salatiga, kota kecil yang dikenal dengan toleransi dan udara sejuknya, gecok adalah simbol kehangatan. Ia hadir di meja keluarga saat Lebaran, di hajatan kampung, atau sekadar pengobat rindu akan masakan rumah.









Saat suapan pertama menyentuh lidah, rasa gurih santan berpadu dengan pedas lada dan aroma kelapa yang menguar. Dagingnya lembut, tanpa bau prengus, hasil dari proses perebusan yang sabar. Tak heran jika banyak yang menyebut gecok sebagai “gulai yang naik kelas”—lebih kompleks, lebih berkarakter.

Di tengah gempuran restoran modern dan makanan cepat saji, gecok kambing tetap bertahan. Ia tak punya papan nama mencolok, tak viral di media sosial, tapi hidup dalam ingatan kolektif warga Salatiga. Seperti halnya kota ini, gecok adalah tentang kesederhanaan yang tak kehilangan makna.