Bacatrend, Batu – Sabtu malam itu, kabut turun lebih cepat dari biasanya di sabana Gunung Bhutak, Kota Batu. Di tengah dingin yang menggigit, tiga pendaki muda asal Sidoarjo—Chamdan Salman Alfarizi (22), Wahyu, dan Dewa—baru saja mendirikan tenda di sabana pertama, tak jauh dari petilasan yang dikenal oleh pendaki lokal. Mereka tiba sekitar pukul 13.30 WIB, membawa semangat petualangan yang khas anak muda.

Namun, malam itu berubah menjadi awal dari pencarian yang belum berujung.

Sekitar pukul 19.00 WIB, Chamdan keluar tenda untuk buang air kecil. Ketika kembali, ia tampak linglung, berbicara tidak jelas, dan menyebut ingin mendaki ke gunung lain bersama temannya. Wahyu dan Dewa mencoba menenangkan, menduga Chamdan mengalami hipotermia ringan. Tapi pukul 20.15 WIB, Chamdan menghilang begitu saja. Tanpa jejak. Tanpa suara.

Laporan resmi diterima oleh Tim SAR Malang Raya pada Senin pagi. Sejak itu, operasi pencarian dilakukan secara intensif. Koordinator SAR, Yoni Fariza, menyebutkan bahwa tiga SRU (Search and Rescue Unit) telah dibentuk, menyisir sabana, puncak Bhutak, jalur Paseban, dan sisi utara sabana agung. Drone diterbangkan, jalur pendakian ditutup sementara, dan setiap semak diperiksa.









“Cuaca cukup bersahabat, tapi medan Bhutak tidak mudah. Banyak jalur liar dan kabut tebal di pagi hari,” ujar Yoni saat ditemui di posko pencarian.

Para relawan, anggota TNI, Polri, BPBD, dan LMDH turut bergabung. Mereka bukan hanya mencari jejak fisik, tapi juga berusaha memahami kemungkinan psikologis dan medis yang dialami Chamdan sebelum menghilang.

Gunung Bhutak bukan nama asing bagi pendaki Jawa Timur. Jalurnya yang semi-resmi dan reputasinya sebagai kawasan “angker” kerap memunculkan cerita mistis. Namun, dalam kasus Chamdan, para ahli lebih menyoroti faktor medis: hipotermia, disorientasi, dan kemungkinan tersesat di jalur yang minim penanda.

“Hipotermia bisa membuat seseorang kehilangan orientasi dan bertindak di luar nalar,” jelas dr. Raka, dokter pendakian yang pernah bertugas di Semeru. “Jika tidak segera ditangani, bisa berujung fatal.”

Di rumah Chamdan, keluarga menanti dengan cemas. Ibunya, yang enggan disebutkan namanya, hanya bisa berharap anaknya ditemukan dalam keadaan selamat. “Chamdan anak baik. Dia suka naik gunung, tapi selalu pamit dan hati-hati,” ujarnya lirih.

Media sosial pun dipenuhi doa dan dukungan. Komunitas pendaki membagikan informasi, mengajak publik untuk tidak menyebarkan spekulasi yang bisa menyakiti keluarga.