Jejak Kecil di Tepian Bengawan Solo, Tragedi Bocah Menghilang Dalam Arus
Bacatrend, Gresik – Pagi itu, Sabtu 31 Mei 2025, matahari baru saja merangkak naik di langit Desa Dukunanyar, memberi kehangatan bagi rumah-rumah kecil di tepian Bengawan Solo.
Udara masih sejuk ketika Ahmada Ainun Haq (9) melangkah keluar rumah setelah sarapan.
Seperti pagi-pagi sebelumnya, ia berlari kecil ke arah sungai yang selalu menjadi tempat bermainnya.
Tak ada yang menyangka, pagi itu akan menjadi awal dari pencarian panjang yang penuh harapan dan doa.
Jejak yang Tertinggal, Bocah yang Hilang
Waktu berlalu, siang berubah menjadi sore, namun Ahmada tak kunjung pulang. Sang ibu mulai cemas.
Bersama beberapa tetangga, ia mencari Ahmada di setiap sudut desa, memanggil namanya dengan harap-harap cemas.
Hingga esok harinya, Minggu 1 Juni 2025, pencarian membawa mereka ke tepian DAS Bengawan Solo—tempat Ahmada biasa bermain.
Namun, yang mereka temukan bukan sosok kecil itu. Di atas tanah basah di tepi sungai, hanya ada jejak kaki kecil dan sepasang sandal.
Angin berembus pelan, mengiringi detak jantung keluarga yang berdegup kencang. Apakah ini miliknya? Apakah ia terpeleset? Apakah ia jatuh ke sungai?
Pencarian yang Tak Mengenal Lelah
Berita ini segera tersebar. Tim SAR gabungan pun bergerak, tak ingin membiarkan harapan itu tenggelam bersama arus sungai.
Pada hari keempat, Kamis 5 Juni 2025, mereka menyiapkan lima tim pencari yang menyisir sungai dengan perahu karet, menyusuri setiap lekuk aliran Bengawan Solo.
Di beberapa titik yang dicurigai, tim memutar perahu, menciptakan gelombang—mencoba mengguncang dasar sungai agar benda apa pun yang tertahan dapat naik ke permukaan.
“Kami terus berupaya semaksimal mungkin dengan berbagai teknik pencarian. Setiap pergerakan dilakukan dengan penuh perhitungan,” ujar Nanang Sigit P.H., Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya, yang ikut memantau jalannya operasi.
Tak hanya tim SAR di air, tetapi juga dua tim darat yang memantau setiap sudut dari tepian sungai, berharap ada tanda yang bisa membawa pulang Ahmada.
Doa yang Tak Pernah Padam
Hari terus berganti, namun keluarga Ahmada tetap menunggu, tetap berharap.
Mata-mata lelah tetap terjaga setiap malam, menatap ke arah sungai seolah mencari jawaban dari gulungan air yang terus mengalir.
Dalam setiap hembusan angin, ada doa. Dalam setiap gerak tim pencari, ada harapan.
Ahmada mungkin belum ditemukan, tetapi cinta dan usaha tak akan berhenti.
Dan di tepian Bengawan Solo, di bawah langit yang masih menjadi saksi, semua orang masih menunggu, menunggu keajaiban, menunggu Ahmada kembali ke rumahnya.











Tinggalkan Balasan