Bacatrend, Kalteng – Bayangkan sebuah pagi di Kalimantan Tengah, ketika kabut masih menggantung seperti tirai rahasia di antara pepohonan purba.

Dari celah rimba itu, terdengar dentingan parang membelah rotan muda—bukan untuk anyaman, tapi untuk disulap jadi hidangan yang bisa membuat lidah orang kota terdiam dalam takjub: Juhu Singkah.

Ini bukan sekadar sup. Ini adalah mantra kuliner, hasil perkawinan antara bumi dan air, antara ketegaran Dayak dan kelembutan hutan. Umbut rotan muda, sang bahan utama, ditarik dari rimba seperti mengambil intisari bumi. Rasanya pahit-manis dengan tekstur yang melawan arus kehalusan modern. Tapi justru di situlah sihirnya bermula.

Ikan sungai segar, dibakar di atas bara daun pisang, lalu ditenggelamkan dalam kuah pekat nan harum, bersama terong asam dan rempah-rempah liar. Tiap hirupan kuahnya seakan membisikkan sejarah nenek moyang: keras, penuh perjuangan, tapi selalu kembali pada harmoni.









Bukan cuma soal rasa, Juhu Singkah adalah tugu perlawanan terhadap invasi makanan cepat saji. Ia mengajarkan kita bahwa kadang yang pahitlah yang menyembuhkan, dan yang sederhana bisa menyuarakan kebesaran. Kandungan gizinya pun bukan main: vitamin A, C, B kompleks, hingga mineral pembangkit energi alam—seolah hutan sendiri menitipkan kekuatannya dalam semangkuk kuah.

“Kalau kau tak pernah makan juhu singkah, berarti kau belum betul-betul mengenal Kalimantan.” — Seorang tetua adat, sambil tersenyum dan menyesap kuahnya perlahan.

Di desa, Juhu Singkah bukan hanya makanan. Ia hadir di upacara, di saat duka, di momen sukacita. Ia mempersatukan, menyembuhkan, dan membuat siapa pun yang mencicipinya kembali berpikir: kenapa kita meninggalkan semua yang asli, demi yang instan?