Jumbrek, Terompet Rasa dari Lamongan yang Tak Pernah Padam
Bacatrend, Lamongan – Di tengah riuhnya soto Lamongan dan nasi boranan yang mendominasi etalase kuliner Jawa Timur, ada satu nama yang pelan-pelan tenggelam dalam ingatan: Jumbrek. Kudapan ini tak bersuara lantang, tak tampil mencolok. Ia hadir dalam balutan daun siwalan, berbentuk kerucut seperti terompet kecil, seolah ingin menyampaikan pesan dari masa lalu yang tak sempat didengar.
Jumbrek bukan sekadar makanan. Ia adalah warisan. Ia adalah doa yang dikukus dalam santan dan gula aren, lalu dibungkus dengan daun lontar muda yang harum dan bersahaja. Di desa-desa pesisir Lamongan seperti Ngimbang dan Paciran, jumbrek dulu menjadi suguhan sakral dalam hajatan, selamatan, dan pertemuan para wali. Bentuknya yang menjulang ke atas diyakini sebagai simbol harapan dan kesederhanaan yang luhur.
Rasanya? Manis, lembut, dan penuh nostalgia. Setiap gigitan membawa kita pada kenangan dapur nenek, pada suara kukusan yang mendesis pelan, pada aroma santan yang menyatu dengan tanah basah selepas hujan. Jumbrek tak butuh topping kekinian. Ia cukup dengan cinta dan kesabaran.
Namun zaman berubah. Jumbrek perlahan tersisih oleh tren makanan instan dan jajanan viral. Hanya segelintir pelestari seperti Bu Karmini di Lamongan yang masih setia membuatnya dengan cara lama—memilih daun siwalan terbaik, mengaduk adonan dengan tangan, dan mengukusnya tanpa mesin.
Di pasar-pasar tradisional Ngimbang, jumbrek masih bisa ditemukan, meski tak lagi mendominasi. Ia duduk tenang di sudut meja, menunggu mereka yang masih percaya bahwa rasa tak selalu harus ramai. Bahwa makanan bisa menjadi medium untuk mengenang, merenung, dan menghormati.
Jumbrek adalah terompet rasa. Ia tak berteriak, tapi menggema dalam hati mereka yang tahu cara mendengarnya.











Tinggalkan Balasan