Kayu Bajakah, Herbal Asal Kalimantan yang Diklaim Antikanker
Bacatrend, Palangkaraya — Kayu bajakah, tanaman merambat yang tumbuh di hutan Kalimantan Tengah, kembali menjadi sorotan publik setelah sejumlah penelitian menunjukkan potensi senyawa aktifnya dalam pengobatan kanker. Tanaman ini telah lama digunakan oleh masyarakat Dayak sebagai obat tradisional untuk luka dalam, infeksi, dan penyakit degeneratif.
Dua spesies bajakah yang paling dikenal adalah Spatholobus littoralis Hassk. dan Uncaria nervosa Elmer.. Ekstrak akar dan batangnya diketahui mengandung flavonoid, tanin, saponin, terpenoid, dan senyawa fenolik—komponen bioaktif yang secara ilmiah memiliki efek antioksidan, antikarsinogenik, dan imunostimulan.
Salah satu studi awal yang sempat viral berasal dari eksperimen siswa SMA di Palangkaraya, yang menunjukkan bahwa air rebusan bajakah mampu mengecilkan tumor pada mencit dalam waktu dua bulan. Meski hasilnya menjanjikan, Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa klaim tersebut masih bersifat awal dan belum melalui uji klinis resmi.
“Ekstrak kasar kulit dan akar bajakah mengandung metabolit sekunder yang bersifat toksik. Penggunaan harus dikontrol dan diteliti lebih lanjut,” ujar peneliti dari Universitas Mulawarman dalam laporan etnobotani tahun 2024.
Selain potensi antikanker, bajakah juga diteliti untuk manfaat antibakteri, penyembuhan luka, dan peningkatan daya tahan tubuh. Dalam uji laboratorium terhadap larva Artemia salina, ekstrak bajakah menunjukkan toksisitas tinggi dengan nilai LC50 sebesar 1,76 ppm, menandakan potensi sitotoksik terhadap sel hidup.
Meski berasal dari bahan alami, para ahli mengingatkan bahwa penggunaan bajakah secara bebas dapat menimbulkan risiko. Efek sampingnya belum sepenuhnya diketahui, dan interaksi dengan obat medis perlu dikaji lebih lanjut.
Kayu bajakah menjadi contoh penting bagaimana warisan etnobotani lokal dapat membuka jalan bagi inovasi farmasi modern. Namun, para peneliti menekankan perlunya validasi ilmiah dan uji klinis bertahap sebelum bajakah dapat digunakan sebagai terapi resmi.











Tinggalkan Balasan