Bacatrend, Surabaya – Gelombang konflik bersenjata di Timur Tengah memicu efek berantai hingga ke Tanah Air. Sedikitnya 2.100 calon jemaah umrah asal Jawa Timur gagal berangkat sesuai jadwal setelah pemerintah pusat mengeluarkan imbauan penundaan perjalanan guna menghindari jalur udara yang dinilai rawan akibat ketegangan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Pelaksana Tugas Kepala Kementerian Haji Jawa Timur, Asadul Anam, menyatakan arahan tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi Wakil Menteri Haji pada awal pekan ini. Kebijakan itu diambil sebagai langkah mitigasi risiko keselamatan penerbangan.

“Kemarin sekitar pukul 15.00 WIB sudah ada pernyataan resmi untuk menunda keberangkatan. Saat ini kami masih merekap dan memverifikasi jumlah jemaah yang terdampak,” ujar Anam.

Data dalam Sistem Komputerisasi Pengelolaan Terpadu Umrah dan Haji Khusus (Siskopatuh) menunjukkan sekitar 2.100 jemaah telah terdaftar untuk keberangkatan dalam waktu dekat. Meski demikian, otoritas teknis terkait pembatalan maupun penjadwalan ulang berada pada masing-masing Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU).









“Di Siskopatuh tercatat kurang lebih 2.100 orang yang sudah masuk jadwal melalui Nusuk Masar. Namun operasionalnya tetap menjadi kewenangan PPIU. Kami hanya melakukan pengawasan dan koordinasi,” katanya.

Menurut Anam, durasi penundaan belum bisa dipastikan karena sangat bergantung pada perkembangan situasi keamanan di kawasan konflik. Ia menegaskan, jika eskalasi meningkat, maka pembatasan perjalanan kemungkinan akan diperketat.
“Kita belum tahu kapan situasi kembali kondusif. Semua bergantung pada tingkat eskalasi di sana,” ucapnya.

Di sisi lain, Ketua DPD Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) Jawa Timur, Mohammad Sufyan Arief, mengungkapkan pembatalan penerbangan sudah terjadi sejak Sabtu (28/2), terutama untuk rute yang menggunakan transit di sejumlah kota Timur Tengah dan sekitarnya.

“Sejak Sabtu, penerbangan yang transit melalui beberapa hub tersebut sudah dibatalkan,” kata Arief, Selasa (3/3).

Rute yang terdampak antara lain penerbangan transit melalui Amman, Kuwait, Dubai, Abu Dhabi, Doha, Bahrain, Moskow, dan Peshawar. Namun, penerbangan langsung menuju Arab Saudi masih beroperasi.

“Untuk direct flight seperti Garuda, Saudia, dan Lion Air, sejauh ini masih berjalan,” tambahnya.

Arief mengakui pihaknya belum dapat merinci total jemaah Jawa Timur yang terdampak karena sebagian menggunakan penerbangan langsung dan ada pula jemaah mandiri di luar penyelenggara resmi. Ia menegaskan, data paling valid tetap mengacu pada Siskopatuh milik pemerintah.

Selain persoalan jadwal, pembatalan ini juga berpotensi menimbulkan beban biaya tambahan, khususnya akomodasi di Arab Saudi. Memasuki Ramadan sebagai musim puncak, pengelola hotel umumnya tidak memberikan pengembalian dana atas pembatalan.

“Karena ini high season, kamar dianggap tetap terpakai meski tidak ditempati. Refund sangat sulit,” ujarnya.

Kemenhaj Jawa Timur meminta para calon jemaah tetap tenang dan intens berkoordinasi dengan PPIU masing-masing untuk memperoleh kepastian terbaru terkait jadwal keberangkatan.