Kella Celok, Kuliner Laut yang Menjaga Ingatan Pulang
Bacatrend, Gresik — Di sebuah dapur kayu di Desa Daun, aroma kuah kuning mengepul dari panci tanah liat. Seorang ibu tua, dengan tangan cekatan dan mata penuh kenangan, mengaduk pelan potongan ikan tongkol yang tenggelam dalam racikan bumbu kunyit, laos, dan belimbing wuluh. Di sinilah Kella Celok lahir—bukan sekadar masakan, tapi penanda pulang, pengikat rasa, dan penjaga tradisi.
Bagi masyarakat Bawean, Kella Celok bukan hanya menu harian. Ia adalah kuliner identitas. “Kalau ada keluarga dari Malaysia atau Singapura pulang kampung, pasti minta dimasakkan Kella Celok,” ujar Nurhayati, warga setempat yang juga pengusaha jamu rumahan. “Rasanya itu seperti laut yang kita rindukan.”
Pulau Bawean memang unik. Dengan luas laut yang lebih besar dari daratan, kehidupan warganya tak bisa lepas dari hasil laut. Ikan segar menjadi bahan utama, dan Kella Celok adalah cara paling jujur untuk merayakannya. Kuahnya kuning cerah, pedas dan asam, menyatu dalam keseimbangan yang hanya bisa dicapai oleh tangan-tangan yang mewarisi resep turun-temurun.
Menurut catatan dalam buku Bawean: Keunikan, Budaya, dan Tradisi, Kella Celok sudah ada sejak abad ke-19, dibawa oleh pelaut Bawean yang menetap di pesisir Kalimantan dan Semenanjung Melayu. Di sana, ia bertransformasi menjadi variasi lain seperti “asam pedas” atau “ikan singgang,” tapi di Bawean, ia tetap setia pada akar: sederhana, segar, dan penuh makna.
Di bulan Ramadan, Kella Celok menjadi primadona. Disajikan saat sahur atau berbuka, ia memberi kehangatan dan kekuatan. “Kuahnya ringan tapi mengenyangkan. Cocok untuk yang puasa,” kata Ustaz Mahfud, pengajar pesantren lokal yang juga penulis buku kuliner Bawean.
Namun, di balik kelezatannya, ada kekhawatiran. Generasi muda Bawean yang tumbuh di luar pulau mulai melupakan resep ini. Beberapa komunitas diaspora kini berinisiatif mendokumentasikan cara memasak Kella Celok lewat video dan kelas daring. “Kami ingin anak-anak kami tahu bahwa rasa pulang itu bisa dimasak,” ujar Ahmad Fauzi, warga Bawean yang menetap di Johor.
Kella Celok bukan hanya tentang ikan dan bumbu. Ia adalah narasi tentang laut, tentang rumah, dan tentang bagaimana rasa bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Di setiap suapan, ada jejak ombak, ada suara perahu, dan ada harapan bahwa tradisi ini akan terus hidup, meski jarak dan zaman terus berubah.











Tinggalkan Balasan