Ketika Air Laut Merangsek ke Rumah, Banjir Rob Hantui Warga Kalianak Surabaya
Bacatrend, Surabaya – Kota Surabaya kembali direnggut dari kenyamanannya. Seperti tamu tak diundang yang datang tanpa aba-aba, banjir rob menyelinap masuk ke celah-celah rumah, merayapi lantai hingga meninggalkan genangan yang nyaris menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Selama dua hari terakhir, air dengan tinggi 15 hingga 30 sentimeter menguasai permukiman warga Kalianak Timur hingga Margomulyo, Surabaya.
Tak ada hujan deras yang mengawal datangnya bencana ini—hanya air laut yang dengan ganas menerjang daratan, seakan menegaskan bahwa batas antara laut dan kota semakin kabur.
Setiap pagi, saat matahari mulai meninggi, air perlahan merayap, memenuhi gang-gang sempit, menggenangi rumah-rumah, menyusup ke sekolah-sekolah tempat anak-anak menuntut ilmu.
Di balik teriakan riang mereka yang biasa terdengar, kini ada bunyi cipratan air ketika kaki-kaki kecil mereka melangkah tanpa sepatu, berusaha menghindari genangan yang enggan surut.

“Banjir rob hampir terjadi setiap bulan, tapi tidak setinggi dua hari ini,” keluh Ari Faridah, warga Kalianak Timur, dengan napas tertahan.
Ia, bersama warga lainnya, menolak anggapan bahwa proyek pembangunan di sekitar kawasan Kalianak menjadi dalang dari bencana ini.
Meski begitu, harapan tak pernah sepenuhnya padam. Mereka menginginkan solusi nyata, bukan sekadar janji yang menguap ditelan ombak.
“Kami butuh solusi permanen, bukan hanya penanganan sementara. Pintu air mungkin bisa menjadi solusi yang efektif untuk mencegah banjir rob berulang,” tegas Ari, dengan harapan yang berpendar di matanya.
Namun, bukan hanya warga yang menanggung beban. Jalan Raya Kalianak, jalur utama provinsi Surabaya-Gresik, ikut terseret dalam drama ini.
Kemacetan panjang mengular, para pengendara terpaksa mengalah pada air yang memantulkan langit mendung di permukaannya.
Hari-hari berlalu, tapi banjir rob tetap hadir seperti kenangan pahit yang sulit dilupakan.
Hingga kapan warga harus bergulat dengan air yang setiap bulan datang merenggut ketenangan mereka? Pertanyaan itu menggantung di udara, menanti jawaban yang mungkin tak segera datang.












Tinggalkan Balasan