Kisah Banser 56 Tahun Mengayuh Sepeda dari Sumatera hingga Jombang Demi Muktamar NU
Bacatrend, Jombang – Ada banyak cara menuju Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Sebagian memilih pesawat, kereta api, atau kendaraan pribadi demi tiba secepat mungkin. Namun bagi Maskhun Arif Hidayat, perjalanan menuju muktamar bukan sekadar soal sampai di tujuan. Perjalanan itu sendiri adalah bentuk pengabdian.
Selama 14 hari, roda sepedanya terus berputar, membelah jalan lintas provinsi dari Sumatera Selatan menuju Jombang.
Ribuan kilometer dilalui bukan demi mencatat rekor, melainkan menunaikan sebuah nazar yang telah lama bersemayam di dalam hati. Di setiap kayuhan, terselip doa. Di setiap tanjakan, tersimpan keteguhan. Dan di setiap kilometer yang ditaklukkan, tumbuh cinta yang semakin dalam kepada Nahdlatul Ulama.
Selasa malam (18/8/2026), lelaki yang akrab disapa Ndan Arif itu akhirnya tiba di halaman Tambakberas. Tak ada iring-iringan penyambutan mewah, tak pula kendaraan pengawal. Yang datang hanyalah seorang kader Banser berusia 56 tahun dengan sebuah sepeda yang menjadi saksi bisu perjalanan panjangnya, tubuh yang mulai dimakan usia, serta semangat yang tak sedikit pun kehilangan nyala.
Di balik kedatangannya, tersimpan tekad yang telah dipupuk jauh sebelum Tambakberas dipastikan menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-35.
“Lima bulan sebelum lokasi muktamar ditetapkan, saya sudah berniat bersepeda menghadiri muktamar,” tuturnya.
Niat itu menjelma menjadi bahan bakar yang tak pernah habis. Bagi Ndan Arif, perjalanan ribuan kilometer bukan perlombaan melawan waktu, melainkan perjalanan spiritual untuk mensyukuri nikmat kesehatan yang masih Allah SWT anugerahkan di usia yang tak lagi muda.
“Yang pertama saya merasa bersyukur atas karunia dan rahmat Allah SWT. Di usia ke-56 tahun saya masih diberi kekuatan fisik. Tentunya yang tidak kalah penting adalah niat,” ujarnya.
Jalan panjang yang dilalui ternyata tak pernah benar-benar sepi. Di hampir setiap kota dan kabupaten yang disinggahinya, tangan-tangan persaudaraan menyambut hangat. Pengurus PWNU, PCNU, MWC NU, kader Ansor, hingga Banser silih berganti menyapa, memeluk, menyediakan tempat beristirahat, mengirim doa, bahkan sekadar menemani berbincang sebelum ia kembali mengayuh.
Setiap sambutan itu seolah menghapus rasa letih yang sempat singgah. Sepeda yang dikayuh Ndan Arif tak lagi hanya membawa tubuhnya, tetapi juga membawa pesan tentang kuatnya ikatan persaudaraan yang telah menjadi denyut nadi Nahdlatul Ulama selama puluhan tahun.
Salah satu momen yang paling membekas baginya adalah ketika Ketua Umum GP Ansor berkenan melepas langsung keberangkatannya dari Markas Komando Pimpinan Pusat GP Ansor sebelum ia memulai perjalanan menuju Jombang.
“Kemarin Ketua Umum Ansor juga berkenan melepas saya dari Mako PP GP Ansor menuju Tambakberas,” kenangnya.
Menariknya, perjalanan selama dua pekan itu nyaris tanpa hambatan berarti. Yang tersisa dalam ingatannya justru bukan rasa pegal atau jalan yang melelahkan, melainkan wajah-wajah saudara seiman yang membuat setiap kilometer terasa lebih ringan.
Setibanya di Tambakberas, seluruh rasa lelah seperti luruh begitu saja. Di hadapannya berdiri arena Muktamar NU ke-35, perhelatan yang bukan sekadar forum memilih pemimpin baru, tetapi ruang besar untuk merawat persatuan, menjaga tradisi, dan memastikan denyut Jam’iyah An-Nahdliyah tetap hidup hingga ke akar rumput.
Di balik kayuhan sepeda yang sederhana, Ndan Arif menyimpan doa yang tak muluk. Ia berharap Muktamar berlangsung damai, teduh, dan melahirkan kepemimpinan yang mampu merangkul seluruh keluarga besar NU.
“Siapapun yang akan memimpin di tataran elit PBNU ke depan, saya yakin beliau akan istiqamah dan selalu mengayomi Jamiyah An-Nahdliyah di akar rumput,” pungkasnya.
Kisah Ndan Arif mengajarkan bahwa kesetiaan kepada organisasi tidak selalu ditunjukkan dari mimbar-mimbar besar atau jabatan yang tinggi. Kadang, cinta yang paling tulus justru hadir dari seorang kader yang memilih mengayuh sepeda melintasi ribuan kilometer. Sebab bagi mereka yang mengabdi dengan hati, setiap putaran roda bukan sekadar perjalanan menuju sebuah muktamar, melainkan ziarah panjang menuju makna pengabdian yang sesungguhnya.












Tinggalkan Balasan