Bacatrend, Sibolga — Sebuah video warga korban banjir di Sibolga mendadak viral di media sosial. Dalam rekaman itu, seorang pria terlihat keluar dari minimarket dengan kantong plastik berisi makanan dan minuman. Namun yang membuat publik tersentuh bukanlah aksi penjarahan itu sendiri, melainkan pernyataan maaf yang ia sampaikan kemudian.

“Kami bukan pencuri. Kami hanya lapar. Anak-anak kami butuh makan. Kami janji akan membayar setelah keadaan pulih,” ucapnya dengan suara bergetar.

“Sebenarnya saya tidak ada niat. Karena keterbatasan makanan dan terjebak banjir, tidak ada uang untuk membeli, tidak ada bantuan sama sekali, akhirnya saya ikut mengambil,” sambung pria tersebut.

Ia mengaku hanya mengambil beberapa bungkus mi instan, air mineral, dan snack. Barang-barang itu langsung dimasak untuk anaknya yang kelaparan.









Meski begitu, pria tersebut menegaskan tetap menyesali perbuatannya dan siap bertanggung jawab tanpa membenarkan tindakan penjarahan tersebut.

“Insya Allah kalau hari sudah membaik dan saya bisa kembali beraktivitas, saya pasti kembali ke toko Alfamart tersebut. Saya akan membayar semuanya,” katanya.

Pria itu kembali menegaskan permintaan maafnya dan berharap pihak Alfamart memahami kondisi darurat yang ia alami. Ia juga menyebut tindakan tersebut merupakan kekhilafan yang terjadi di tengah situasi banjir yang membuat banyak warga kesulitan bertahan hidup.

Fenomena ini memicu perdebatan. Sebagian menilai tindakan tersebut tetap melanggar hukum, sementara banyak yang melihatnya sebagai jeritan survival di tengah krisis logistik. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan bahwa warga tidak merusak fasilitas minimarket, melainkan hanya mengambil makanan untuk bertahan hidup. Aparat kepolisian pun menekankan pendekatan restoratif: warga akan diminta membayar setelah situasi normal, bukan ditindak secara represif.

Pemilik minimarket yang mengalami kerugian jutaan rupiah memilih menahan amarah. Beberapa bahkan menyatakan memahami kondisi darurat. Minimarket yang biasanya menjadi simbol konsumsi kini berubah menjadi simbol krisis logistik, dengan rak kosong sebagai metafora hilangnya jaminan atas kebutuhan dasar.

Di pengungsian, cerita tentang penjarahan ini menjadi obrolan hangat. Ada rasa bersalah, ada rasa lega. Anak-anak yang sempat kelaparan kini bisa makan, meski dengan mie instan seadanya. Di balik tragedi, terselip potret kemanusiaan: solidaritas, kejujuran, dan janji untuk menebus kesalahan.

Kasus viral warga Sibolga yang meminta maaf usai menjarah minimarket bukan sekadar kisah kriminal. Ia adalah potret krisis logistik, dilema moral, dan solidaritas sosial di tengah bencana. Narasi ini menegaskan bahwa penanganan bencana harus lebih cepat, adil, dan humanis agar tragedi serupa tidak terulang.