Lemet, Penganan Tradisional Manis yang Tersebar di Nusantara
Bacatrend, Jakarta – Kuliner Tradisional Berbahan Singkong. Lemet adalah salah satu jajanan tradisional Indonesia berbahan dasar singkong parut yang dicampur dengan gula merah dan kelapa parut. Adonan tersebut dibungkus daun pisang, lalu dikukus hingga matang. Rasanya manis legit dengan aroma khas daun pisang, membuat lemet menjadi camilan sederhana namun menggugah selera.
Camilan ini dikenal luas di Jawa, Bali, Lombok, hingga Sulawesi, dan termasuk jenis kue basah yang sering dijumpai di pasar tradisional maupun acara hajatan.
Cara Membuat Lemet
Bahan utama: singkong parut, kelapa parut, gula merah, garam, serta daun pisang untuk membungkus.
Langkah membuat:
• Kupas singkong, lalu parut hingga halus.
• Campur singkong parut dengan kelapa parut dan sedikit garam.
• Tambahkan gula merah yang sudah disisir halus atau dilelehkan.
• Aduk rata hingga adonan menyatu.
• Siapkan daun pisang, beri selembar adonan, gulung dan lipat rapat kedua ujungnya.
• Kukus selama 20–30 menit hingga matang.
Hasilnya adalah kudapan manis dengan tekstur lembut yang bisa dinikmati hangat maupun dingin.
Nama dan Sebutan di Berbagai Daerah
• Jawa Tengah & Jawa Timur: disebut lemet, biasanya dijajakan di pasar tradisional bersama kue basah lain seperti getuk dan cenil.
• Bali: dikenal dengan nama lemet atau lemet ubi, disajikan pada upacara adat dan sesaji.
• Lombok & NTB: disebut juga lemet, kadang dikombinasikan dengan pisang raja sebagai isiannya.
• Sulawesi Selatan: ada penganan mirip lemet bernama ketu- ketu, berbahan singkong dan gula merah, meski cara membungkus berbeda.
• Lampung: dikenal dengan nama lemet singkong atau kadang disebut kelanting basah.
• Minahasa (Sulawesi Utara): ada kudapan sejenis disebut lalampa, meskipun isinya berbeda (ikan cakalang). Namun secara teknik pembungkusan daun dan pengukusan mirip dengan lemet.
Nilai Sosial dan Budaya
Lemet bukan hanya camilan, tetapi juga bagian dari tradisi. Di beberapa daerah, lemet dihidangkan dalam acara kenduri, syukuran, dan upacara adat. Bagi masyarakat desa, lemet menjadi simbol kesederhanaan, karena terbuat dari bahan lokal yang mudah didapat.
Eksistensi di Era Modern
Meski jajanan modern semakin banyak, lemet masih bertahan di pasar tradisional. Kini, variasi rasa mulai dikembangkan, seperti lemet dengan tambahan cokelat, keju, atau pandan. Namun, ciri khasnya tetap sama: rasa manis singkong berpadu dengan harum daun pisang.











Tinggalkan Balasan