Bacatrend, Banyuwangi – Setiap Ramadan, ada satu aroma yang membuat warga Banyuwangi seolah ditarik pulang: wangi santan hangat yang meresap ke roti tawar, berpadu dengan bihun dan sagu mutiara. Dialah kopyor roti, takjil sederhana yang justru menjelma ikon kebersamaan.

Di pasar takjil sore hari, pemandangan selalu sama: deretan pedagang dengan bungkusan daun pisang berisi kopyor roti, dan pembeli yang rela antre demi sajian manis gurih ini. “Kalau tidak ada kopyor roti, rasanya Ramadan kurang lengkap,” kata Siti, seorang ibu rumah tangga yang setiap tahun berburu jajanan ini.

Kopyor roti bukan sekadar makanan. Ia adalah nostalgia masa kecil, cerita tentang ekonomi rakyat, sekaligus simbol identitas Banyuwangi. Pedagang musiman menggantungkan harapan pada penjualan takjil ini, sementara pembeli merasakan kembali hangatnya tradisi.

Harganya murah, namun nilainya tak ternilai. Setiap suapan adalah pengingat bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang merayakan kebersamaan.









Di tengah modernisasi kuliner, kopyor roti tetap bertahan. Sederhana, merakyat, dan penuh makna. Ramadan di Banyuwangi seakan berbisik lewat jajanan ini: manis gurihnya bukan sekadar rasa, melainkan kenangan yang tak tergantikan.

Resep
Bahan utama: roti tawar, bihun, santan kelapa.

Pelengkap: sagu mutiara, gula pasir, sedikit garam.

Aroma khas: dibungkus daun pisang, memberi sensasi tradisional yang tak tergantikan.

Cara Membuat
Rebus bihun hingga matang, tiriskan.

Masak santan dengan gula dan sedikit garam, aduk perlahan agar tidak pecah.

Tambahkan sagu mutiara yang sudah direbus, lalu masukkan bihun.

Susun roti tawar di wadah, siram dengan kuah santan bercampur bihun dan sagu mutiara.

Bungkus dengan daun pisang, biarkan kuah meresap sehingga roti lembut dan gurih