Mencicipi Nikmatnya Kalakan yang Disajikan dengan Nasi Tiwul Hangat Di Pacitan
Bacatrend, Pacitan – Di sebuah warung sederhana di pinggir jalan menuju Pantai Teleng Ria, aroma santan dan rempah menyambut siapa pun yang datang. Di atas meja kayu yang sudah mulai kusam, sepiring nasi tiwul hangat tersaji bersama semangkuk kalakan—olahan ikan laut khas Pacitan yang tak hanya menggugah selera, tapi juga menyimpan jejak panjang tradisi pesisir.
Kalakan bukan sekadar masakan. Ia adalah cerita tentang laut, tentang keluarga nelayan yang menggantungkan hidup pada hasil tangkapan, dan tentang dapur-dapur tua yang masih menyimpan resep nenek moyang. Ikan kelong atau hiu kecil yang menjadi bahan utama, dimasak dalam kuah santan kental berbumbu pedas. Rasanya tajam, gurih, dan menyisakan hangat di tenggorokan. Bagi warga lokal, kalakan bukan hanya makanan sehari-hari, tapi juga simbol kebersamaan—sering disajikan saat kumpul keluarga atau acara desa.
Di pagi hari, para ibu mulai menyiapkan bumbu: bawang merah, bawang putih, cabai, kunyit, dan lengkuas. Ikan yang baru ditangkap dibersihkan, direbus atau dibakar sebentar, lalu dimasukkan ke dalam kuah santan yang sudah mendidih. Prosesnya sederhana, tapi membutuhkan ketelatenan agar rasa rempah meresap sempurna. Di beberapa warung, kalakan disajikan dengan sambal terasi, kerupuk tengiri, dan oseng-oseng sayur sebagai pelengkap.
Warung Bu Gandos, salah satu tempat yang dikenal menyajikan kalakan dengan cita rasa otentik, menjadi persinggahan favorit wisatawan dan warga sekitar. Di sana, kalakan bukan hanya dijual, tapi juga diceritakan. Bu Gandos kerap berbagi kisah tentang bagaimana resep ini diwariskan dari ibunya, yang dulu memasak kalakan untuk para nelayan sepulang melaut. “Kalakan itu rasa rumah,” katanya sambil tersenyum.
Bagi sebagian orang, kalakan mungkin terdengar asing. Tapi bagi masyarakat Pacitan, ia adalah bagian dari identitas. Di tengah gempuran makanan modern dan cepat saji, kalakan tetap bertahan—menjadi pengingat bahwa rasa tak selalu datang dari kemewahan, tapi dari kesederhanaan yang dirawat dengan cinta.
Kini, kalakan mulai dilirik sebagai potensi kuliner wisata. Pemerintah daerah dan pelaku UMKM mulai mengemasnya sebagai oleh-oleh khas, bahkan beberapa mencoba membuat versi instan agar bisa dinikmati di luar kota. Namun, bagi mereka yang tumbuh bersama aroma dapur pesisir, kalakan paling nikmat disantap hangat, di rumah-rumah kayu yang menghadap laut, sambil mendengarkan suara ombak yang tak pernah berhenti bercerita.











Tinggalkan Balasan