Bacatrend, Jakarta – Di negeri yang sering kali bingung membedakan antara kekuasaan dan kebenaran, pernah hidup seorang polisi yang namanya lebih harum dari pangkatnya. Ia bukan sekadar jenderal. Ia adalah legenda. Hoegeng Iman Santoso—satu-satunya polisi yang, menurut Gus Dur, jujurnya setara dengan patung polisi dan polisi tidur.

Lahir di Pekalongan, 14 Oktober 1921, Hoegeng kecil tumbuh dalam keluarga priyayi yang sederhana. Ia menolak hidup dalam kemewahan, meski ayahnya seorang jaksa. Pendidikan formalnya mengantarkannya ke Recht Hoge School (RHS) di Batavia, namun ditutup oleh Jepang saat pendudukan. Tak patah arang, ia mengikuti kursus kepolisian Jepang dan menjadi salah satu dari 11 orang yang diterima dari 130 pelamar.

Kariernya melesat: dari Kepala Reskrim di Medan, Direktur Imigrasi, hingga Menteri Sekretaris Kabinet. Namun puncaknya adalah ketika ia diangkat menjadi Kapolri ke-5 pada 1968 oleh Presiden Soeharto. Tapi jabatan itu tak membuatnya silau. Ia tetap naik sepeda ke kantor, menolak pengawalan, dan menolak mobil dinas untuk keluarganya.

Hoegeng bukan hanya jujur—ia tak bisa dibeli. Ketika menjabat Kepala Imigrasi, ia meminta istrinya menutup toko bunga agar tak ada konflik kepentingan. Ketika menjadi Kapolri, ia menolak hadiah rumah dan mobil dari para penyelundup di Medan. Semua barang mewah itu ia keluarkan dari rumah dan diletakkan di pinggir jalan3.









Ia bahkan pernah mengatur lalu lintas sendiri di perempatan karena tak ada polisi yang berjaga. Baginya, jabatan jenderal tak menghapus tugas dasar: melayani rakyat.

Hoegeng membongkar kasus penyelundupan mobil mewah yang melibatkan pengusaha besar dan orang dalam istana. Ia juga menangani kasus pemerkosaan Sum Kuning yang diduga melibatkan anak pejabat tinggi. Tapi keberaniannya membuatnya tak nyaman di lingkar kekuasaan. Pada 1971, ia dipensiunkan dini oleh Soeharto, meski usianya baru 49 tahun.

Ia menolak tawaran menjadi duta besar. Ia memilih pensiun dan bermain musik bersama grup “The Hawaiian Seniors”—lebih memilih gitar daripada kekuasaan.

Hoegeng wafat pada 14 Juli 2004. Tapi namanya terus hidup. Ia adalah simbol integritas, ikon kesederhanaan, dan cermin yang memalukan bagi mereka yang menyalahgunakan seragam.

“Baik menjadi orang penting, tapi lebih penting menjadi orang baik.” — Hoegeng

Ia bukan sekadar nostalgia. Ia adalah standar moral yang tak pernah bisa diturunkan. Selamat Hari Bhayangkara!