Bacatrend, Surabaya – 10 November 2025 — Tepat 80 tahun sejak Pertempuran Surabaya 1945, bangsa Indonesia kembali mengenang sosok Bung Tomo, pemimpin rakyat yang menjadi simbol keberanian dan perlawanan terhadap penjajahan. Sutomo, yang lebih dikenal sebagai Bung Tomo, memainkan peran sentral dalam membangkitkan semangat juang rakyat Surabaya melalui pidato-pidato radio yang menggema di seluruh penjuru kota.

Lahir di Surabaya pada 3 Oktober 1920, Bung Tomo berasal dari keluarga berada dan sempat mengenyam pendidikan Belanda. Namun, idealismenya tumbuh sejak muda. Ia aktif sebagai jurnalis di kantor berita Antara dan Radio Republik Indonesia, sebelum akhirnya menjadi pemimpin Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia.

Puncak perjuangannya terjadi pada 10 November 1945, ketika pasukan Inggris dan Belanda berusaha merebut kembali Surabaya. Bung Tomo tampil sebagai orator ulung yang menyatukan berbagai elemen masyarakat—pemuda, ulama, tentara, dan rakyat biasa—dalam satu tekad: mempertahankan kemerdekaan. Lewat siaran radio, ia menyerukan slogan legendaris “Merdeka atau Mati!” yang menjadi pemantik perlawanan rakyat.

“Selama rakyat Indonesia masih punya darah merah yang bisa membasahi sehelai kain putih, selama itu kita tidak akan menyerah kepada siapapun,” ucap Bung Tomo dalam salah satu pidatonya yang kini menjadi kutipan sejarah.









Setelah revolusi, Bung Tomo sempat menjabat sebagai Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Indonesia dan Menteri Sosial ad-interim dalam Kabinet Burhanuddin Harahap. Ia juga aktif dalam dunia politik melalui Gerakan Rakyat Baru dan Pemuda Republik Indonesia. Meski sempat berselisih dengan pemerintah Orde Lama dan Orde Baru karena sikap kritisnya, Bung Tomo tetap konsisten memperjuangkan nilai-nilai keadilan dan nasionalisme.

Bung Tomo wafat pada 7 Oktober 1981 di Padang Arafah, Arab Saudi, saat menunaikan ibadah haji. Ia dimakamkan di TMP Ngagel, Surabaya, dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia.

Hari ini, nama Bung Tomo diabadikan dalam berbagai bentuk: jalan, sekolah, museum, hingga monumen. Namun warisan terbesarnya adalah semangat perlawanan dan keberanian rakyat yang ia bangkitkan. Bung Tomo membuktikan bahwa suara rakyat bisa menjadi senjata paling ampuh dalam melawan penjajahan.