Menipu Malaikat Maut
CeritaNgeTrend – Pada suatu malam yang sunyi, Abu Nawas sedang duduk termenung di serambi rumahnya. Angin berhembus pelan, dan bulan tampak redup di langit. Tiba-tiba, sosok yang menakutkan muncul di hadapannya: Malaikat Maut.
“Abu Nawas,” suara itu bergema, “waktumu sudah habis. Aku datang untuk mencabut nyawamu.”
Abu Nawas tidak gentar. Dengan wajah tenang, ia menjawab, “Kalau begitu, izinkan aku memilih tempat yang paling aman untuk mati. Aku ingin mati di tempat yang suci, agar engkau tidak bisa menjangkaunya.”
Malaikat Maut mengernyit. “Tempat apa yang kau maksud?”
Abu Nawas lalu melangkah masuk ke dalam masjid. Ia duduk di pojok, tersenyum sambil berkata, “Nah, di sini kau tak bisa mencabut nyawaku. Masjid adalah rumah Allah, tempat suci. Jika kau melakukannya, berarti kau melanggar kesucian.”
Malaikat Maut terdiam sejenak, lalu berkata, “Tidak ada tempat yang bisa menghalangiku, Abu Nawas. Aku bisa mencabut nyawamu di mana saja.”
Namun Abu Nawas kembali berkelit, “Kalau begitu, aku akan duduk di dalam kitab suci. Jika kau mencabut nyawaku di sini, berarti kau merobek firman Allah.”
Malaikat Maut semakin bingung. Abu Nawas terus mencari alasan, memutar logika dengan kata-kata jenaka. Setiap kali Malaikat Maut hendak bertindak, Abu Nawas menimpali dengan dalih yang membuatnya ragu.
Akhirnya, Malaikat Maut tersenyum tipis. “Abu Nawas, kau memang manusia paling licik sekaligus paling cerdik. Aku akan menunda tugasku. Kau boleh hidup lebih lama, tapi ingat: waktumu tetap akan datang.”
Abu Nawas pun tertawa kecil. “Baiklah, wahai Malaikat. Setidaknya aku masih punya waktu untuk menulis puisi dan membuat orang tertawa.”











Tinggalkan Balasan