Bacatrend, Situbondo — Di tengah gempuran makanan cepat saji dan tren kuliner modern, sebuah hidangan tradisional khas Situbondo tetap bertahan dan memikat lidah para penikmat makanan lokal: Nasi Sodu. Bukan hanya soal rasa, tapi juga filosofi dan cara penyajiannya yang unik membuat makanan ini layak mendapat sorotan.

Nasi Sodu bukan sekadar nasi dengan lauk. Hidangan ini disajikan menggunakan sodu—sendok dari daun pisang yang dilipat—menghadirkan pengalaman makan yang menyatu dengan alam. Tradisi ini mencerminkan nilai kesederhanaan dan kearifan lokal masyarakat Situbondo.

Dalam satu porsi Nasi Sodu, pembeli akan menemukan nasi putih hangat yang disiram kuah santan labu kuning, ditemani ikan tongkol berbumbu, tempe, dan labu siam. Yang membuatnya semakin menggugah selera adalah sambal cengek, campuran terasi, cabai, tomat, tauge, dan mentimun yang segar dan pedas.

“Rasanya khas, sambalnya segar banget. Makan pakai sodu itu sensasinya beda,” ujar Siti Aminah, warga Panarukan yang rutin membeli Nasi Sodu setiap pagi.









Kuah santan dalam Nasi Sodu mirip sayur lodeh, namun lebih kental dan kaya rempah. Aroma daun salam, serai, dan jeruk berpadu dengan bumbu seperti kunyit, kencur, kemiri, dan pala, menciptakan harmoni rasa yang sulit dilupakan.

Hidangan ini banyak dijajakan di warung-warung sepanjang jalur Pantura Situbondo Timur, terutama pada pagi hari. Bagi pelancong yang melintasi Situbondo menuju Bali, Nasi Sodu menjadi pilihan sarapan yang tak hanya mengenyangkan, tapi juga memperkenalkan kekayaan budaya kuliner lokal.

Di tengah arus modernisasi, Nasi Sodu menjadi bukti bahwa tradisi bisa tetap hidup—asal ada rasa, cerita, dan cinta yang terus diwariskan.