Bacatrend, Minahasa – Di balik aroma rempah yang mengepul dari dapur-dapur Manado, tersembunyi sebuah sajian yang tak biasa—paniki. Bukan ayam, bukan sapi, melainkan daging kelelawar buah yang dimasak dengan bumbu pedas atau santan kental. Bagi masyarakat Minahasa, paniki bukan sekadar makanan, melainkan warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Paniki berasal dari kata lokal untuk kelelawar pemakan buah (Pteropus), yang dipercaya memiliki tekstur kenyal dan rasa khas. Sebelum dimasak, bulu kelelawar dibakar hingga habis, lalu dagingnya dicuci bersih dan dipotong-potong. Proses ini penting untuk menghilangkan bau tajam yang menjadi ciri khas daging kelelawar.

Ada dua versi utama paniki: dimasak dengan rica-rica—bumbu khas Manado yang pedas dan segar—atau dengan santan yang gurih dan kaya rempah. Dalam versi rica-rica, campuran cabai, bawang, jahe, dan daun jeruk menciptakan ledakan rasa yang membakar lidah. Sementara paniki bersantan menawarkan kelembutan rasa yang lebih bersahabat, meski tetap menyisakan jejak pedas di ujung lidah.

Meski terdengar ekstrem, paniki dipercaya memiliki manfaat kesehatan. Daging kelelawar disebut mengandung senyawa kitotefin, yang mirip dengan obat asma, serta kaya akan protein dan omega-3. Beberapa masyarakat lokal meyakini paniki dapat membantu meredakan sesak napas, meningkatkan stamina, bahkan memperlambat penuaan dini3. Namun, klaim ini belum sepenuhnya didukung oleh penelitian ilmiah.









Di sisi lain, konsumsi paniki juga menuai kontroversi. Daging kelelawar berpotensi membawa patogen berbahaya jika tidak dimasak dengan benar. Selain itu, perburuan berlebihan dapat mengancam populasi kelelawar yang berperan penting dalam ekosistem sebagai penyerbuk dan penyebar biji.

Meski begitu, bagi masyarakat Minahasa, paniki tetap menjadi simbol keberanian kuliner dan identitas budaya. Di tengah sorotan global dan perdebatan etika, paniki tetap hadir di meja makan sebagai pengingat bahwa rasa, tradisi, dan keberanian sering kali berjalan beriringan.