Bacatrend, Lombok – Mulai 1 Januari hingga 31 Maret 2026, seluruh jalur pendakian Gunung Rinjani resmi ditutup oleh Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Penutupan ini bukan larangan permanen, melainkan kebijakan sementara yang bertujuan melindungi keselamatan pendaki dan memberi waktu bagi ekosistem Rinjani untuk pulih dari tekanan aktivitas wisata.

Kepala Balai TNGR, Budhy Kurniawan, menegaskan bahwa keputusan ini diambil sebagai bentuk mitigasi risiko bencana alam, terutama di musim hujan awal tahun. “Penutupan sementara ini untuk keselamatan dan untuk masa depan Rinjani itu sendiri,” ujarnya di Mataram, Selasa (13/1).

Menurut TNGR, curah hujan tinggi di awal tahun membawa risiko besar bagi pendaki, seperti jalur licin, kabut tebal, dan aliran air yang bisa menutup lintasan. Kondisi ini meningkatkan potensi kecelakaan dan hipotermia. Oleh karena itu, keselamatan menjadi prioritas utama dalam kebijakan penutupan ini.

Selain aspek keselamatan, penutupan juga dimaksudkan untuk memberi waktu istirahat bagi alam Rinjani. Tanah dan vegetasi yang tertekan oleh aktivitas manusia diberi ruang untuk pulih, sementara satwa liar dapat kembali tenang tanpa gangguan. TNGR juga memanfaatkan masa penutupan ini untuk melakukan perbaikan jalur pendakian dan evaluasi pengelolaan wisata.









Enam jalur resmi pendakian yang ditutup meliputi jalur Senaru, Torean, Sembalun, Timbanuh, Tetebatu, dan jalur pendakian lainnya yang berada dalam kawasan taman nasional. Penutupan ini berlaku untuk semua jenis pendakian, baik individu maupun kelompok, termasuk kegiatan wisata edukasi dan ekspedisi.

Langkah TNGR ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk komunitas pendaki dan pemerhati lingkungan, yang menilai bahwa jeda pendakian secara berkala penting untuk menjaga keberlanjutan kawasan konservasi. Gunung Rinjani, sebagai salah satu destinasi pendakian paling populer di Indonesia, menghadapi tekanan tinggi dari kunjungan wisatawan setiap tahunnya.

Dengan penutupan sementara ini, TNGR berharap dapat menciptakan keseimbangan antara pariwisata dan konservasi. Pendaki diimbau untuk menghormati kebijakan ini dan merencanakan pendakian setelah masa penutupan berakhir.