Putul, Serangga Musiman yang Jadi Camilan Bergizi di Gunungkidul
Bacatrend, Yogya – Di balik perbukitan karst dan ladang tandus Gunungkidul, tersimpan tradisi kuliner yang tak biasa—putul. Bagi sebagian orang, serangga bersayap ini mungkin dianggap hama. Namun bagi warga Gunungkidul, putul adalah berkah musiman yang bisa diolah menjadi camilan bergizi tinggi.
Putul, yang muncul menjelang musim hujan, biasanya ditemukan menempel di dedaunan atau batang pohon saat petang. Warga lokal mengenalnya sebagai serangga yang bisa digoreng, dibacem, atau dikeringkan untuk dijadikan lauk. Rasanya gurih, teksturnya renyah, dan kandungan proteinnya tak kalah dari sumber hewani lain.
“Putul itu MBG—makanan bergizi gratis,” ujar Neni, salah satu warga Desa Nglanggeran sambil tertawa. “Kalau musimnya tiba, anak-anak sampai berebut nangkap buat lauk makan malam, “tambahnya.

Tradisi mengonsumsi putul bukan sekadar soal rasa, tapi juga soal ketahanan pangan. Di daerah yang tanahnya kurang subur dan akses protein terbatas, putul menjadi solusi alami yang murah dan bergizi. Bahkan, menurut Prof. Sri Raharjo dari Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM, pengeringan putul adalah metode pengawetan yang efektif agar tidak cepat busuk dan bisa disimpan lebih lama.
Di beberapa sekolah, putul juga dikenalkan sebagai bagian dari edukasi gizi lokal. Anak-anak diajak mengenali sumber pangan alternatif yang berasal dari alam sekitar mereka. “Kami ingin anak-anak bangga dengan makanan lokal, bukan malah malu,” ujar seorang guru SD di Patuk.
Meski belum populer di luar Gunungkidul, putul mulai menarik perhatian para peneliti dan pegiat kuliner ekstrem. Kandungan omega-3 dan proteinnya menjadikan putul sebagai kandidat pangan masa depan yang berkelanjutan.
Namun, tantangan tetap ada. Stigma terhadap serangga sebagai makanan masih kuat di sebagian masyarakat. “Kami butuh narasi baru, bahwa serangga bukan simbol kemiskinan, tapi simbol kecerdasan lokal,” kata Heru, seorang aktivis pangan dari Yogyakarta.
Putul bukan sekadar camilan. Ia adalah cerita tentang adaptasi, kreativitas, dan kebanggaan akan warisan kuliner yang lahir dari keterbatasan. Di Gunungkidul, serangga kecil ini menjadi bukti bahwa pangan bergizi bisa datang dari tempat yang tak terduga.











Tinggalkan Balasan