Rahasia Rempeyek Renyah Sepanjang Hari
Bacatrend, Surabaya — Di balik suara “kriuk” yang menggoda dari selembar rempeyek, tersimpan rahasia dapur yang diwariskan turun-temurun. Camilan tradisional berbahan dasar tepung beras ini bukan sekadar pelengkap nasi pecel atau lauk sederhana—ia adalah simbol kehangatan rumah dan keahlian tangan-tangan ibu di dapur.
Namun, menjaga kerenyahan rempeyek bukan perkara sepele. Banyak yang mengeluh rempeyek cepat melempem atau terlalu keras. Di Mojoagung, sejumlah pengrajin kuliner rumahan membagikan kiat agar rempeyek tetap renyah, bahkan setelah berhari-hari disimpan.
Kiat Dapur: Dari Tepung hingga Teknik Goreng
Kunci utama terletak pada pemilihan bahan. Tepung beras yang halus dan kering menjadi fondasi penting. Beberapa pengrajin menambahkan sedikit tepung tapioka atau sagu—sekitar 10 hingga 20 persen dari total adonan—untuk menghasilkan tekstur ringan dan tidak keras.
Santan dan telur juga memainkan peran penting. Santan memberi rasa gurih sekaligus membantu adonan lebih renyah, sementara telur berfungsi sebagai pengikat agar rempeyek tidak mudah hancur saat digoreng.
Tak ketinggalan, kapur sirih. Meski terdengar kuno, bahan ini masih digunakan oleh banyak pembuat rempeyek sebagai rahasia kerenyahan yang tahan lama.
“Adonan harus agak encer, supaya bisa menyebar tipis di wajan,” ujar Siti Aminah, pengusaha rempeyek rumahan di Desa Mojotengah. Ia menyarankan agar adonan dituang di pinggir wajan panas, lalu dibiarkan mengalir ke tengah agar bentuknya tipis dan matang merata.
Minyak panas dan jumlah yang cukup juga menjadi syarat mutlak. Suhu ideal berkisar antara 160–170°C, dengan api sedang agar bagian luar tidak gosong sebelum bagian dalam matang.
Menyimpan Tanpa Kehilangan Kriuk
Setelah digoreng, rempeyek harus ditiriskan dengan tisu dapur atau kertas minyak untuk menyerap sisa minyak. Jangan langsung ditumpuk saat masih panas—uapnya bisa membuat rempeyek lembek.
Wadah kedap udara menjadi pilihan terbaik untuk menyimpan. Toples kaca atau kontainer plastik rapat akan menjaga kerenyahan hingga berhari-hari.
Inovasi Rasa, Tetap Tradisional
Kini, variasi rempeyek semakin beragam. Selain kacang tanah, ada yang menggunakan rebon, kacang hijau, bahkan daun jeruk sebagai pelengkap rasa. Meski tampil lebih modern, prinsip kerenyahan tetap menjadi fondasi utama.
Rempeyek bukan sekadar camilan. Ia adalah cerita tentang tradisi, ketelitian, dan rasa yang tak pernah gagal membangkitkan nostalgia. Di setiap “kriuk”-nya, tersimpan kehangatan yang tak lekang oleh waktu.











Tinggalkan Balasan