Bacatrend, Surabaya – Laron, serangga bersayap yang muncul berkelompok saat musim hujan, kini semakin dikenal sebagai kuliner ekstrem khas Jawa Timur. Berasal dari koloni rayap, laron keluar dari sarang pada malam hari ketika kelembapan tinggi. Setelah kawin, serangga ini melepaskan sayap dan membentuk koloni baru di tanah. Tradisi masyarakat pedesaan memanfaatkan momen kemunculan laron untuk mengolahnya menjadi berbagai hidangan unik.

Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa laron memiliki kandungan gizi tinggi. Protein yang terkandung di dalamnya setara dengan daging sapi, lengkap dengan asam amino esensial. Selain itu, laron juga kaya zat besi, magnesium, zink, dan antioksidan yang bermanfaat bagi metabolisme tubuh serta daya tahan. Kandungan ini menjadikan laron sebagai sumber protein alternatif yang murah dan mudah diperoleh.

Dalam kuliner tradisional Jawa Timur, laron diolah menjadi peyek laron, bothok laron, atau sekadar digoreng kering dengan bumbu bawang dan cabai. Sebelum dimasak, sayap laron biasanya dipisahkan agar teksturnya lebih bersih dan tidak pahit. Hidangan ini sering disajikan sebagai lauk pendamping nasi jagung atau nasi tiwul. “Laron goreng terasa gurih dan renyah, cocok dijadikan camilan maupun lauk,” ujar Roni, warga Tulungagung.

Meski kaya gizi, konsumsi laron juga memiliki risiko kesehatan. Beberapa orang dilaporkan mengalami alergi terhadap protein serangga. Jika tidak dimasak dengan benar, laron dapat membawa mikroba yang memicu gangguan pencernaan. Selain itu, status halal laron masih menjadi perdebatan di kalangan ulama, sehingga masyarakat perlu mempertimbangkan aspek keagamaan sebelum mengonsumsinya.









Dengan kandungan gizi yang menjanjikan dan tradisi kuliner yang kuat, laron tetap menjadi bagian dari kekayaan kuliner Jawa Timur. Namun, masyarakat diingatkan untuk mengolahnya dengan higienis dan mengonsumsi secara bijak.