Satu Wisatawan Asal Surabaya yang Terseret Ombak Di Pantai Modangan Kembali Ditemukan Tewas, 1 Masih Hilang
Bacatrend, Malang – Empat orang wisatawan asal Surabaya yang masuk dalam rombongan wisata pemuda karang taruna terseret ombak saat berada di Pantai Modangan, Desa Sumberoto, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Akibatnya, dua orang dapat diselamatkan warga sedangkan satu orang ditemukan meninggal dan satu orang lainnya hingga kini masih dalam pencarian.
Satu korban meninggal yang baru ditemukan pada Senin (13/10) pagi, atau tepatnya pukul 09.15 itu diketahui bernama Rafi Naoufal (26), warga Jl. Botoh Putih, Kelurahan Simolawang, Kecamatan Simokerto, Kota Surabaya. Korban ditemukan sekitar dua mil dari Pantai Gorah, Desa Tugurejo, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar — masih dalam perairan pesisir selatan Jawa Timur.
“Benar, korban atas nama Rafi Naoufal telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia sekitar dua mil dari lokasi awal kejadian. Saat ini jenazah sudah dievakuasi ke Puskesmas Donomulyo untuk pemeriksaan lebih lanjut,” ujar Kasihumas Polres Malang AKP Bambang Subinajar, Senin (13/10).
Ia menambahkan, pada Minggu (12/10), empat wisatawan asal Surabaya terseret arus saat bermain di Pantai Modangan. Satu orang berhasil diselamatkan warga, sementara satu orang ditemukan meninggal dunia atas nama Rinaldy Hidayat ditemukan sekitar pukul 10.00 WIB dalam kondisi meninggal dunia, terjepit di antara karang.
Peristiwa tragis itu bermula saat rombongan 26 pemuda Karang Taruna RW 8 Simolawang, Surabaya, datang ke Pantai Modangan untuk berlibur usai menjadi panitia peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI. Mereka tiba sekitar pukul 04.00 WIB dan mendirikan tenda di tepi pantai.
Sekitar pukul 08.00 WIB, belasan anggota rombongan memutuskan untuk berenang di laut, meski sudah diingatkan oleh petugas pantai agar tidak mandi karena ombak cukup besar.
Tak lama kemudian, empat orang dilaporkan terseret arus kuat ke tengah laut.
Satu korban, Muhammad Zulfikar Maulana (23), berhasil diselamatkan oleh nelayan setempat dalam keadaan hidup.
“Sejak hari pertama kami langsung menerjunkan tim bersama Basarnas, TNI, BPBD, dan para nelayan setempat. Pencarian dilakukan dengan metode penyisiran di laut dan di darat mengikuti arah arus gelombang,” jelas Bambang.
Bambang menyebut, gelombang tinggi dan arus kuat menjadi kendala utama selama proses pencarian. Namun petugas tetap bekerja maksimal agar seluruh korban dapat ditemukan.
“Cuaca di sekitar lokasi cukup ekstrem, dengan ombak tinggi dan arus deras. Meski begitu, tim terus berupaya menyisir hingga radius beberapa mil dari lokasi awal kejadian,” katanya.
Hingga kini, satu korban lainnya atas nama Muhammad Mahin (18) masih belum ditemukan. Proses pencarian dilanjutkan dengan memperluas area hingga perbatasan perairan Blitar.
“Tim SAR gabungan masih bekerja di lapangan. Kami terus berkoordinasi agar pencarian bisa dilakukan seefektif mungkin sampai seluruh korban ditemukan,” ujar Bambang.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk selalu berhati-hati saat beraktivitas di pantai selatan, terutama pada musim angin barat yang kerap memunculkan gelombang tinggi.
“Ombak di pantai selatan Malang sulit diprediksi dan sangat berbahaya. Kami imbau masyarakat untuk tidak berenang atau bermain air terlalu jauh dari bibir pantai,” pungkas Bambang.











Tinggalkan Balasan