Sego Banting, Kuliner dengan Rasa Nikmat yang Tahan Banting
Bacatrend, Kertosono – Sego banting menjadi salah satu kuliner legendaris yang hingga kini masih lekat dengan identitas Kertosono, Nganjuk. Nama yang unik ini muncul bukan tanpa alasan.
Konon, dahulu sego banting dijual dengan cara dibungkus daun pisang dan kertas sederhana, lalu ditumpuk atau “dibanting” di meja agar rapi dan padat. Dari kebiasaan itulah sebutan sego banting melekat hingga sekarang.
Hidangan ini sebenarnya sederhana, hanya berupa nasi putih dengan lauk pauk ala kadarnya seperti tempe, tahu, sambal, kadang ditambah sayur atau telur. Meski terlihat biasa, cita rasa sego banting justru terletak pada kesederhanaannya. Porsinya pas untuk mengganjal perut, harganya pun merakyat sehingga bisa dijangkau oleh siapa saja, mulai dari pekerja, pelajar, hingga para perantau yang singgah di Kertosono.
Sego banting biasanya dijual pada malam hingga dini hari. Para pedagang berjejer di pinggir jalan dekat terminal, stasiun, maupun area pasar. Karena itu, sego banting sering disebut sebagai “penyelamat malam” bagi mereka yang kelaparan saat jam-jam larut. Kehangatan nasi dan sambal yang pedas mampu memberikan energi sekaligus rasa nyaman di tengah dinginnya malam Kertosono.
Lebih dari sekadar makanan, sego banting sudah menjadi bagian dari budaya kuliner rakyat. Ia hadir sebagai simbol kesederhanaan sekaligus kebersamaan, karena orang-orang kerap menikmatinya sambil duduk lesehan bersama. Tak heran jika kuliner ini masih bertahan dan dicari banyak orang, baik warga lokal maupun pendatang yang ingin merasakan otentisitas Kertosono.











Tinggalkan Balasan