Bacatrend, Nganjuk – Sego banting bukan sekadar nasi murah—ia adalah cerminan kehangatan malam, solidaritas kuliner rakyat, dan keteguhan rasa di tengah keterbatasan. Di sudut-sudut Nganjuk, terutama saat malam menjelang dan jalanan mulai lengang, sego banting menjadi pilihan utama para pekerja, anak kos, dan siapa pun yang butuh isi perut tanpa harus merogoh kocek dalam.

Sekilas mirip sego kucing dari Yogyakarta, namun sego banting menyajikan porsi lebih royal, umumnya dibungkus daun pisang dengan lauk sederhana seperti tempe goreng, telur ceplok, sambal cabai merah yang pedas menggigit, dan sesekali diberi tambahan kerupuk untuk sensasi renyah.

Yang unik dari sego banting bukan hanya harganya yang ramah—kadang hanya dua ribu rupiah per bungkus—tetapi juga filosofi di baliknya. “Banting” bukan mengacu pada kata harfiah, melainkan rasa pasrah, terjangkau, tapi tetap menggembirakan. Bagi penjual, ini bukan bisnis besar, tapi bentuk kepedulian dan kehadiran. Bagi pembeli, ini bukan sekadar makanan, tapi pengingat bahwa kenikmatan bisa hadir dalam kesederhanaan.

Menikmati sego banting adalah pengalaman kuliner yang membawa kita pulang—ke akar tradisi, ke rasa ikhlas, dan ke cita rasa yang bersahaja. Cocok untuk penikmat kuliner lokal, pecinta street food, atau siapa pun yang ingin mencicipi Nganjuk dalam balutan nasi dan sambal.