Bacatrend, Lamongan – Di sudut pasar yang belum sepenuhnya terjaga dari kantuk pagi, aroma gurih dan pedas menyeruak dari sebuah boran—wadah anyaman bambu yang digendong oleh seorang perempuan muda berkerudung merah jambu.

Senyumnya manis, tapi tangannya cekatan. Ia bukan sekadar penjual, ia adalah penjaga warisan rasa: nasi boranan.

Satu Suapan, Seribu Cerita
Sego boranan bukan sekadar nasi. Ia adalah simfoni rasa yang meledak di lidah: nasi putih hangat, disiram bumbu areh berwarna cokelat kekuningan yang gurih dan pedas, ditaburi serundeng kelapa, rempeyek pletuk yang renyah, dan lauk pauk yang bisa membuat lidah bersujud syukur—dari empal suwir, pepes telur, hingga ikan sili yang langka dan mahal.

“Pletuk ini bukan sekadar keripik,” ujar Bu Rini, penjual generasi ketiga. “Ia suara masa kecil kami. ‘Pletuk, pletuk’ di mulut, seperti kenangan yang tak mau hilang.”









Dari Boran ke Legenda
Nama “boranan” berasal dari boran, wadah bambu yang digendong di punggung. Tapi lebih dari itu, ia adalah simbol perjuangan perempuan Lamongan. Mereka berjalan kaki sejak subuh, menyusuri gang-gang kota, menjajakan rasa yang diwariskan dari nenek moyang.

Tradisi ini sudah ada sejak zaman dahulu dan masih bertahan hingga kini. Bahkan, nasi boranan telah ditetapkan sebagai kuliner khas milik Kabupaten Lamongan oleh Kemenkumham.

Apa yang membuat nasi boranan begitu istimewa? Mungkin karena ia tidak bisa dipindahkan. Ia hanya hidup di Lamongan, di tangan-tangan perempuan yang tahu kapan bumbu harus ditumis, kapan nasi harus dikukus ulang, dan kapan senyum harus diberikan pada pelanggan pertama pagi itu.

“Kalau dibawa ke kota lain, rasanya beda,” kata Pak Darto, pelanggan setia. “Karena yang dijual bukan cuma makanan, tapi suasana, cerita, dan cinta.”